Data Statistik Pengguna Internet di Indonesia

  • Whatsapp

Data Statistik Pengguna Internet di Indonesia

 

Penetrasi internet di Indonesia boleh dikata luar biasa. Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) pada 2016, sebanyak 132, 7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet. Artinya, separuh dari total penduduk Indonesia. Jumlah itu melonjak drastis hingga 51,8% atau sekitar 88 juta pengguna pada 2014. Diperkirakan pada 2017, jumlah itu terus meningkat seiring mudahnya mendapatkan ponsel pintar dan maraknya media sosial. We Are Social, sebuah lembaga survei di London, Inggris, juga mencatat hal serupa.

Penelitian oleh lembaga itu pada 2016 menyebutkan, ada sekitar 88 juta pengguna internet di Indonesia dari 3,25 miliar pengguna di dunia. Jumlah itu meningkat 21% dari sebelumnya 72 juta pengguna. Sementara itu ada versi lain. Data dari Internet Live States pada 2016, Indonesia menduduki posisi ke-12 di dunia dengan sekitar 53 juta pengguna internet. Urut-urutannya di posisi pertama Tingkok (700 juta), India (462 juta), Inggris (286 juta), Brazil (139 juta), dan Jepang (115 juta). Terus meningkat Harus diakui, peningkatan jumlah pengguna internet di Indonesia tidak lepas dari meningkatnya jumlah pengguna media sosial dan mudahnya mendapatkan ponsel pintar. Berdasarkan survei We Are Social, dari 88 juta pengguna internet di Indonesia, sekitar 79 juta aktif bermedia sosial.

Menariknya, sepanjang 2016, hampir semua platform media sosial di Indonesia mengalami peningkatan pengguna. Bahkan Iwan Setyawan, pemerhati media sosial dari Provetic Indonesia di Jakarta, memperkirakan angka itu akan terus meningkat pada 2017. Hal itu mengingat semakin maraknya platform media sosial dan derasnya arus informasi dari media sosial. Sepanjang 2016, Iwan menjelas- kan, adanya tren peningkatan penggunaan internet yang berkaitan dengan hal-hal atau konten yang bersifat visual dan audio. Tak heran, jika platform media sosial berbasis visual dan audio mengalami peningkatan pengguna cukup besar sepanjang 2016.

Beberapa media sosial itu di antaranya Instagram, Youtube, video streaming pada Facebook live atau Twitter live, penyajian informasi dari Blogging ke Vlogging, video on demand (Netflix, Hook, Iflix, Genflix, dll), dan music streaming (Spotify, Joox, dll). “Instagram mengalami peningkatan pengguna cukup besar dan Youtube menjadi platform yang semakin banyak digunakan,” ucap CEO dari Provetic itu. Tren visual itu, lanjut Iwan, tak terlepas dari peningkatan kecepatan akses internet di Indonesia dan kecenderungan netizen yang semakin visual. Ditambah lagi, banyaknya konten visual, baik gambar, audio, atau video yang juga banyak dilempar atau diakses oleh pengguna media sosial. Sepanjang 2016, konten video Twitter misalnya, menjadi konten yang ramai digunakan di Indonesia.

Baca Juga  Netbook 11 inch Terbaik Layar Sentuh dari Dell

Setidaknya, 44% pengguna, memanfaatkan video saat melakukan tweet dan 43% di antaranya me- retweet dari video yang ada. Begitu pun pada platform chatting WhatsApp. Setiap harinya, ada sekitar 42 miliar pesan dan 1,6 miliar foto yang dikirimkan. Sementara jumlah video yang dibagikan mencapai 250 juta buah setiap harinya. Iwan menjelaskan, peningkatan tren dan pengguna platform media sosial berbasis visual akan terus meningkat pada 2017. Terlebih, semakin banyak platform media sosial yang terus melakukan inovasi. “Instagram, Youtube, Vlogging, Virtual Reality (VR), dan Augmented Reality (AR) akan semakin meningkat pada 2017,” ucap pria berusia 42 tahun itu. Iwan menambahkan, salah satu media sosial yang juga gencar melakukan inovasi adalah Facebook.

Tak heran, platform yang didirikan Mark Zuckerberg itu masih menjadi media sosial nomor satu dengan jumlah pengguna terbesar baik di dunia maupun Indonesia. Kecenderungannya pun stabil sepanjang 2016 dan berlanjut pada 2017. “Hampir semua konten informasi tersedia di FB, seperti text, foto, hingga video. Inovasi itu bikin FB terus bertahan dan stabil,” papar Iwan. Sementara itu, media sosial yang melemah pada 2016, di antaranya Vine dan Yahoo Messanger (YM). Bahkan, Vine, aplikasi berbagi video berdurasi pendek milik Twitter itu harus tutup pada 2016.

Baca Juga  Harga Keyboard Portable untuk HP Android Mini dan Flexible

 

Iwan memprediksi bahwa YM juga bakal terus melemah pada 2017. Sedangkan Twitter, meski dikabarkan melemah pada 2016, menurut Iwan, statistik penggunanya justru terus meningkat. Begitu juga volume perbincangannya. “Mungkin pengguna Twitter di Indonesia tidak sebanyak Facebook, namun Twitter masih menjadi media sosial yang cukup berpengaruh,” kata penulis novel 9 Summers 10 Autumns itu. Pilgub DKI makin kencang Popularitas media sosial tak terlepas dari topik yang dibuat oleh para netizen. Sepanjang 2016, dalam catatan Iwan, ada beberapa topik yang hangat. Antara lain, sidang Jessica, Pokemon Go, perayaan Olimpiade Owi-Butet, video adu ponco Jokowi dan Kaesang, hari pertama sekolah, lelucon Mukidi, parade meme Valak, perseteruan Mario Teguh dengan anaknya, pemilihan gubernur (pilgub) DKI Jakarta, jaket bomber Jokowi, Mannequin challenge, hingga munculnya Awkarin dan Young Lex sebagai selebritas baru di media sosial.

Dari semua topik, Iwan mengatakan, pilgub DKI Jakarta adalah yang terus hangat dibicarakan dan viral di berbagai platform media sosial hingga saat ini. Berdasarkan data Provetic, yakni melalui pantaudki.boomee. co, pembicaraan mengenai pilgub DKI Jakarta cenderung terus meningkat. Saat ini rata-rata sekitar 50 ribu percakapan di media sosial mengenai calon gubernur DKI Jakarta per hari. Calon gubernur Jakarta nomor urut dua, Basuki Tjahja Purnama atau Ahok, rata-rata memperoleh lebih dari 20 ribu percakapan setiap hari. Disusul Agus Harimurti Yudhoyono sebanyak 7.000 percakapan, dan Anies Baswedan sekitar 3.000 percakapan. Iwan menambahkan, percakapan terkait Pilgub DKI Jakarta akan semakin meningkat hingga 2017 dan semakin signifikan mendekati hari pencoblosan, yakni 15 Februari 2017. Sebab berdasarkan pengalaman, semakin mendekati hari pemilihan, pembicaraan justru semakin meningkat atau tajam. Begitu pun mengenai konflik dan ketegangan dari para netizen terkait Pilgub juga masih terus mewarnai di media sosial hingga 2017. “Hal ini nyaris sama seperti pilpres 2014. Pertempuran akan terjadi di akhir Januari 2017 hingga 15 Februari 2017,” ucap Iwan.

Baca Juga  Printer All in One Terbaik Copy Scan Fax Harga Murah

Iwan mengakui, pembicaraan atau diskusi mengenai politik di media sosial bermula dari Pilpres 2014. Menariknya, sampai hari ini pembicaraan itu seperti tidak pernah berhenti. Platform Twitter dan Facebook menjadi ajang paling seru untuk berdiskusi atau kampanye politik. Namun, belakangan Instagram juga mulai digunakan. “Sejauh ini, Twitter dan Facebook masih lebih banyak,” kata Iwan. Bisnis e-dagang makin legit Popularitas media sosial juga berdampak positif bagi industri bisnis Tanah Air. Selain dimanfaatkan oleh berbagai perusahaan sebagai media promosi atau pemasaran, media sosial juga semakin banyak digunakan untuk berjualan, baik individu maupun perusahaan. Berdasarkan data International Data Corporation (IDC) pada 2016, sekitar 13,3% dari 132, 7 juta pengguna internet di Indonesia membeli barang melalui internet. Artinya, sekitar 17 juta pengguna internet berbelanja online.

Dan minat berbelanja itu terus meningkat setiap tahun. Faktor keamanan dan kenyamanan berbelanja online yang terus membaik, menjadi alasannya. Iwan menjelaskan, pada 2017, penjualan bisnis online, baik melalui platform e-dagang atau e-commerce maupun platform media sosial mengalami peningkatan meski tidak terlalu signifi kan. Akan tetapi, platform e-dagang jauh lebih meningkat dibandingkan platform media sosial, seperti Facebook atau Instagram. Peningkatan itu dipengaruhi oleh sistem dan infrastruktur e-dagang yang sudah lebih matang. Sementara, platform media sosial cenderung digunakan untuk promosi. Ditambah lagi, faktor keamanan dan kenyamanan dari e-dagang lebih terpercaya.

Hal itu terlihat dari semakin berkurangnya penipuan belanja online melalui e-dagang. Permasalahan yang dihadapi sekarang justru lebih pada keluhan pembeli, seperti kualitas barang dan waktu pengiriman. Oleh sebab itu, Iwan berharap, agar pemerintah memberikan perhatian dan pengaturan lebih demi semakin memajukan bisnis e-dagang di Tanah Air. Sebab, selama ini berbagai situs e-dagang masih berusaha sendiri. “Kalau bisnis online di Facebook atau Instagram kita pesan melalui WhatsApp atau Line. Tapi, e-commerce sudah punya sistem tertata dan bisa langsung pesan di situsnya,” tutup Iwan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.