Virus Malware Paling Berbahaya di Android dan Laptop

  • Whatsapp

Virus Malware Paling Berbahaya di Android dan Laptop

Tanpa kita sadari, kemajuan teknologi dalam beberapa tahun terakhir ini berperan sangat signifi kan pada perkembangan dunia. Ini mengakibatkan perubahan besar dan bahkan mengakibatkan banyak perubahan rezim penguasa di berbagai belahan dunia.

Misalnya pada kasus Arab Spring, internet dan media sosial (dalam hal ini Twitter dan Facebook) yang digunakan sebagai sarana komunikasi para aktivis sampai-sampai sempat diblokir atau berusaha dikontrol oleh penguasa di banyak negara. Juga hasil Brexit sampai dengan pilpres di Amerika Serikat yang mengejutkan dan menjungkirbalikkan perkiraan lembaga survei terkenal. Pada kedua kasus ini, lembaga survei gagal menjangkau data perubahan preferensi pemilih yang banyak terpengaruh media sosial, sehingga hasil survei yang dilansirnya dan memakan biaya cukup tinggi ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Hal yang tadinya dianggap sepele seperti penyebaran informasi palsu, fi tnah, hoax atau provokatif di media sosial dapat menjadi faktor yang signifi kan dalam menentukan opini masyarakat yang kurang ter-update dan teredukasi. Industri Digital di Indonesia

 

Ancaman ini merupakan hal yang sulit dikontrol karena akses yang hanya dimiliki oleh perusahaan layanan media sosial nun jauh di negara lain. Selain itu, lalu lintas informasi ini tidak mudah diawasi karena dibungkus dengan aman oleh enkripsi https sebelum dikirimkan. Hal yang sama juga terjadi di tanah air, di mana sehubungan dengan kondisi pilkada yang memanas, terjadi perebutan pengaruh media online. Celakanya perubahan yang demikian cepat dari media cetak ke media online tidak diikuti oleh peningkatan kemampuan masyarakat pengguna layanan online dan media sosial. Mereka dalam banyak kasus menelan mentah-mentah saja informasi yang dikirimkan ke gawainya (gadgetnya), baik melalui Facebook, Twitter, Youtube dan terakhir media chatting seperti Whatsapp. Terkadang tidak mudah untuk mengidentifi kasi informasi palsu atau provokatif karena pembuatnya membungkus dengan rekayasa sosial yang sangat bagus dan ada sifat dasar manusia yang cenderung ingin membaca berita sesuai dengan yang diingininya walaupun terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Hal ini dieksploitasi dengan baik oleh pihak yang ingin mendapatkan keuntungan dengan menyebarkan informasi yang kurang dapat dipertanggungjawabkan dengan teknik rekayasa sosial yang makin lama makin canggih. Adapun motivasi pembuat informasi hoax dan provokatif ini, selain karena merupakan pesanan dari pihak tertentu yang memberikan pendanaan, ternyata juga karena motivasi uang.  3 HP Smartphone Windows Phone Terbaik

Baca Juga  Pengalaman jadi Pembina Sentra / community officer di BTPN Syariah

 

Portal-portal berita hoax dan provokatif ini mendapatkan keuntungan yang besar sampai sejumlah ratusan juta dari klik iklan. Namun, pemerintah juga tidak tinggal diam dan berusaha melakukan regulasi atas informasi digital dengan melakukan revisi pada UU ITE yang berlaku pada 28 November 2016 lalu. Apa saja ancaman malware di luar ransomware di Indonesia pada tahun 2016? Semua dapat diikuti pada uraian di bawah ini. Facebook dan WhatsApp Facebook dan WhatsApp masih menjadi sasaran favorit pembuat scam dan spam di tahun 2016. Menginjak tahun 2016, para phisher menggunakan teknik baru yang lebih canggih guna mengelabui korbannya. Pada proses phishing sebelumnya terjadi perubahan yang cukup kasat mata karena terjadi pergantian dari situs Facebook ke situs di luar Facebook dan terkadang disertai peringatan dari Facebook bahwa Anda berpindah situs keluar dari Facebook. Nah, dengan teknik baru iframe di Facebook Page yang telah dipersiapkan dan dirancang sedemikian rupa, perubahan ini tidak kentara dan pengaksesnya tidak akan menyadari kalau tautan Facebook yang dikliknya tadi melakukan page forwarding ke situs lain di luar Facebook.

 

Hal ini lalu diikuti dengan permintaan memasukkan username dan password guna mencuri password korbannya. Selain iframe, teknik yang banyak digunakan oleh phisher di tahun 2016 adalah penggunaan pemendek tautan (URL shortener) yang merupakan pilihan cerdik. Pasalnya, tautan pendek akan sulit dideteksi keabsahannya dibandingkan dengan tautan langsung. Selain itu, tautan pendek juga memungkinkan perubahan alamat tautan secara cepat jika diblokir. Pembuat phishing ini rupanya juga memantau perkembangan berita lokal dan tidak mau ketinggalan menggunakan nama selebriti terkenal yang sedang ngetop. Selain itu, OS yang diincar juga telah menyesuaikan diri di mana phishing Facebook ini juga telah disiapkan untuk platform mobile. Pada bulan Maret 2016, pengguna Facebook banyak yang terkejut karena akun Facebooknya tahu-tahu bergabung dengan “dunia lain” alias menjadi anggota grup tertentu di Facebook meskipun ia tidak pernah mendaftarkan diri atau menyetujui untuk bergabung dengan grup tersebut. Hebatnya lagi, grup-grup tersebut memiliki anggota ratusan ribu dan tidak sedikit yang memiliki lebih dari 300 ribu anggota. Salah satu penyebabnya adalah karena kebijakan Facebook yang memperbolehkan sesama teman pengguna Facebook menambahkan temannya secara otomatis ke dalam grup yang diikutinya tanpa membutuhkan persetujuan dari pemilik akun yang bersangkutan.

Baca Juga  HP dengan Audio Musik Terbaik

 

Untuk mencegah penambahan kembali ke grup yang tidak diminati, pemilik akun Facebook harus secara manual memilih untuk tidak dimasukkan kembali ke grup yang tidak diminatinya. Setelah peristiwa autoadd dari Facebook di bulan Maret, pada awal Agustus 2016, kembali pengguna Facebook dipusingkan oleh bot yang secara otomatis melakukan posting menggunakan akun korbannya. Tahu-tahu di wall Facebook ada saja orang yang SKSD (sok kenal dok dekat) melakukan posting yang intinya mempromosikan hal yang sampai saat ini menjadi “keinginan terpendam” dari banyak pemilik akun Facebook: yakni siapa yang mengintip akun Facebook-nya. Biang keladi autoposting ini adalah celah pada apps Facebook HTC Sense yang bisa diakali oleh pembuat bot sehingga melakukan autopost. Selain Facebook, aplikasi populer yang menjadi sasaran pembuat scam adalah WhatsApp. Salah satu scam yang marak beredar dan disebarkan adalah WhatsApp Ultra Wifi Scam yang beredar di bulan Oktober 2016. Scammer ini memanfaatkan keinginan pengguna WhatsApp untuk mengakses layanan WhatsApp tanpa koneksi internet. Alih-alih mendapatkan internet gratis, ia malah menjadi korban menyebarkan scam ke kontakkontak WhatsAppnya.

 

Tujuannya, supaya memberikan keuntungan fi nansial langsung kepada pembuat scam semacam ini. Dalam banyak kasus, aplikasi yang dipasang ini berpotensi melakukan aktitivas malware. Scam ini cukup canggih karena memiliki opsi untuk mendeteksi pengakses situs. Jika diakses melalui smartphone akan menampilkan pesan scam, namun jika diakses dari komputer biasa akan dialihkan ke Google Search. Kemungkinan opsi ini dimunculkan untuk menghindari pesan error pada PC karena coding-nya tidak kompatibel dengan WhatsApp for PC.

Baca Juga  HP Smartphone Motorola Terbaru dan Terbaik

 

Crime Will Find A Way

Life will fi nd a way, kehidupan akan menemukan jalannya. Meminjam istilah di atas, hal yang mirip rupanya terjadi dalam perkembangan perlindungan transaksi e-banking dan e-commerce Indonesia. Transaksi yang sebelumnya kurang aman karena username, password, dan data kartu yang mudah dicuri dengan key logger, menjadi lebih aman dan sulit dieksploitasi karena pengamanan otentikasi dua faktor T-FA (two factor authentication) dan OTP (one time password), sehingga turut berkontribusi pada ledakan transaksi online di Indonesia. Namun, istilah “crime will fi nd a way” mungkin tepat untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi di dunia e-banking Indonesia pada bulan September 2016. Ini terjadi saat sebuah akun internet banking milik salah satu pemegang akun di bank swasta yang diamankan dengan perlindungan T-FA dan OTP ternyata berhasil dijebol dan mengakibatkan raibnya uang tabungan ratusan juta rupiah dari akun tersebut. Caranya memang unik ala Indonesia.

 

Teknik yang digunakan penjahat adalah ia mengunjungi operator layanan seluler yang dipakai si korban dan meminta penggantian kartu telepon baru. Hebatnya, penjahat memiliki kartu tanda pengenal aspal sehingga bisa melewati proses identifi kasi customer service operator layanan seluler. Jadi, rupanya celah keamanan TFA yang tidak terkontrol oleh bank adalah oknum nakal di kantor kelurahan, pemalsu blangko KTP, serta customer service operator seluler. Hal ini mungkin menjadi masukan berharga untuk pihak terkait. Pemerintah mungkin perlu mempertimbangkan menyempurnakan sistem administrasi dan kontrol kependudukan sehingga tanda pengenal lebih sulit lagi dipalsukan.

 

Perusahaan penyedia layanan seluler tentunya perlu melakukan screening yang lebih ketat lagi pada pemilik kartu yang mengganti kartunya dengan meminta data pendukung lain yang valid seperti memperlihatkan dokumen pendukung seperti SIM, kartu kredit, surel (e-mail) yang telah didaftarkan sebelumnya, jawaban atas pertanyaan rahasia tertentu, atau verifi kasi lain yang bisa memastikan identitas pemilik nomor telepon.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.