Potensi Pertumbuhan Ecommerce di Indonesia

  • Whatsapp

Potensi Pertumbuhan Ecommerce di Indonesia

Pertumbuhan e-commerce di Amerika kalah dengan Tiongkok. Untuk mencapai angka 304,9 miliar dolar (sekitar Rp 4085 triliun), negeri Paman Sam perlu waktu 14 tahun, dimulai sejak 2000. Tahun itu, Amerika sudah membukukan transaksi mencapai 27,6 miliar dolar. Angka pertumbuhannya memang menanjak terus, mulai satu persen hingga 6,3 persen pada 2014. Tiongkok hanya perlu enam tahun untuk mencapai transaksi 426,3 miliar dolar (sekitar Rp 5712 triliun) Diawali penghitungannya sejak 2008, yang kala itu baru mencapai 19 miliar dolar. Di tahun sama, Amerika sudah meraup perputaran uang sebesar 141 miliar dolar. Indonesia masih kalah jauh. Jangankan bicara target tahunan, cetak birunya saja baru disiapkan ketika pemerintah kabinet Kerja dimulai. Adalah tugas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sebagai pembuat peta jalan bisnis elektronik ini. Pada pemerintahan sebelumnya, nyaris tidak ada berkas-berkas yang memuat tentang e-commerce Indonesia. Sementara satu-persatu layanan on-line produk maupun afi liasi perusahaan asing masuk ke negeri Indonesia.

Baca Juga  Apa itu Pengertian dan Kegunaan Amazon Web Service ?

Mereka menjaring konsumen, membangun infrastruktur, juga menyiapkan proses transaksi dan layanan. Kendati pun nyaris tak ada ekosistem yang mendukung, toh perjalanan sejumlah online shop sukses besar. Baru belakangan, perbankan ambil bagian. Lalu merangsek pula delivery service, hingga PT Pos Indonesia pun sadar bahwa e-commerce membuat peruntungan baru bisnis jasa kirim barang. Bahkan lantas buka layanan 24 jam. Tak bisa dipungkiri, e-commerce di bidang retail adalah aktivitas perdagangan digital paling riuh dan menorehkan perputaran uang tinggi. Sekarang pemain lokal sudah menjadi tuan rumah bersaing dengan namanama besar. Sukses Amerika pun Tiongkok tetaplah akibat peran besar pemerintah. Mulai free market policy, proteksi pemerintah dan banyak lagi. Nah, Indonesia pun merasa pemerintah musti ambil tindakan nyata. Presiden Jokowi bahkan meminta delapan kementerian musti terlibat. Kementerian di bawah Rudiantara menetapkan tujuh isu penting untuk membangun e-commerce Indonesia ke depan. Salah satu hal penting di luar strategi inti, ada pula keinginan pemerintah melahirkan pelaku bisnis start up. Mereka bebas hendak memilih industri digital mana saja, termasuk e-commerce. Saban tahun harapannya muncul 200 start up siap bisnis dan siap bersaing, pun tahan banting. Soal modal, uang tak harus datang dari venture capital. Dunia perbankan pun “disenggol” agar mau mengucurkan KUR (Kredit Usaha Rakyat) sebagai permodalan bagi pelaku pemula bisnis digital. Hingga pada ujung periode lima tahun kabinet Kerja alias pada 2019, sudah hadir sedikitnya 800 start up kuat dan angka transaksi e-commerce Indonesia mencapai 103 miliar dolar (sekitar Rp 1308 triliun) alias angka yang pernah ditoreh Amerika dalam kurun enam tahun

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.