Data Peluang Perkembangan Bisnis Ecommerce di Indonesia 2019

  • Whatsapp

Data Peluang Perkembangan Bisnis Ecommerce di Indonesia

TEKNOLOGI DIGITAL telah mengubah wajah dari banyak industri di Indonesia, termasuk perdagangan. Platform perdagangan online atau e-commerce muncul sebagai alternatif media jual-beli yang menawarkan banyak kelebihan, mulai dari pilihan produk yang luas, harga kompetitif, serta kemudahan transaksi. Akan tetapi, bagaimana sebenarnya e-commerce mengubah wajah ekonomi Indonesia? Hal itulah yang coba digali lembaga riset McKinsey. Dalam riset yang berlangsung selama empat bulan, tim peneliti McKinsey menggali data, melakukan wawancara, serta menyebarkan survei kepada pelaku di ekosistem e-commerce. Riset tersebut menghasilkan laporan berjudul The Digital Archipelago: How online commerce is driving Indonesia’s economic development. Ada banyak temuan menarik dari riset tersebut, dan inilah beberapa di antaranya. Jika tertarik, Anda bisa mendapatkan versi penuhnya di mckinsey.com

Baca Juga : Inilah Aplikasi Kamera untuk Android dengan Fitur DSLR

Baca Juga  Harga Laptop Core i7, Baterai Tahan Lama, Dell XPS 13 9350

Menemukan Momentum

Pada tahun 2017 kemarin, nilai GMV (gross merchandise value) industri e-commerce Indonesia mencapai US$8 miliar. Angka ini hanya sekitar 3% dibanding total industri retail, dan terbilang kecil dibanding Tiongkok, AS, atau Singapura yang di atas 10%. Namun kondisi e-commerce Indonesia saat ini mirip seperti di Tiongkok di era 2010-2015 ketika momentum bergulir dengan cepat. Karena itulah diperkirakan, nilai GMV e-commerce di tahun 2022 akan naik 8X lipat ke angka US$55-65 miliar.

Fenomena Social Commerce

Social commerce adalah perdagangan online menggunakan media sosial (seperti Facebook, Instagram, Line, dan sejenisnya). Di Indonesia, social commerce digunakan pedagang pemula karena mudah digunakan dan tidak memerlukan biaya investasi. Social commerce akan terus berkembang di masa depan dan mencapai angka US$15-25 juta di tahun 2020. Namun perkembangannya tidak sepesat e-commerce formal karena beberapa kekurangan, seperti produktivitas penjual yang rendah (karena semua dilakukan secara manual) serta kurang maksimalnya user experience pembeli (seperti minimnya pilihan sistem pembayaran dan rentan penipuan)

Baca Juga  3 Game HD Offline ini Bisa Dimainkan Bebas tanpa Akses Internet

e-Commerce di Kota Tier 3

Melejitnya industri e-commerce Indonesia dalam lima tahun mendatang akan banyak didorong pembeli di kota Tier II-IV. Saat ini, transaksi online didominasi konsumen Jabodetabek yang mencapai 55%. Namun di tahun 2022 nanti, 2 dari 3 transaksi berasal dari konsumen di luar Jabodetabek. Akan tetapi, proyeksi tersebut hanya akan terwujud jika ekosistem pendukung (seperti pembangunan infrastruktur internet atau perluasan akses keuangan) berjalan dengan baik. Jika tidak, pertumbuhan e-commerce tidak akan setinggi yang diprediksi

Antara Online vs Offline

Industri e-commerce Indonesia akan terus tumbuh, namun nilai absolut dari industri e-commerce sebenarnya masih sangat kecil dibanding industri retail secara keseluruhan. Dengan kata lain, industri ofine sebenarnya tetap akan tumbuh meski terjadi pergeseran ke e-commerce. Namun saat ini, konsumen kian digital-savvy. Jika melihat data global, hanya 6% konsumen yang sepenuhnya ofine (dalam arti mencari dan membeli barang secara ofine) dan hanya 27% yang sepenuhnya online. Sisanya mengkombinasikan keduanya. Karena itu, penting bagi perusahaan untuk menerapkan strategi omni-channel yang menggabungkan pengalaman online dan ofine.

Baca Juga  Laptop Gaming Terbaru 6 jutaan dari Lenovo

Manfaat Ekonomi

Perkembangan e-commerce di Indonesia akan berkontribusi positif bagi perkembangan ekonomi Indonesia, baik dari sisi penjual maupun pembeli. Di sisi penjual, industri e-commerce menciptakan sekitar 26 juta lapangan kerja di tahun 2022 nanti, naik 4X lipat dibanding tahun 2017. Mengingat total pekerja di tahun 2022 nanti diperkirakan mencapai 130 juta, berarti e-commerce akan menyumbang 20% dari total pekerja Sedangkan bagi pembeli, e-commerce membuka kesempatan mendapatkan harga yang lebih murah dibanding sistem commerce tradisional. Hal ini sangat terasa di pembeli luar Jawa, yang berhasil mendapatkan penghematan di angka 15-25%

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.