Inilah Alasan Kenapa Uber di Jual

  • Whatsapp
[Total: 0    Average: 0/5]

Inilah Alasan Kenapa Uber di Jual

Dengan nada tinggi, CEO Uber Travis Kalanick berujar “Good luck!” sambil turun dari mobil. Sang sopir pun membalas juga dengan nada tinggi “Good luck for you too, but I know you won’t go far”. Itulah drama yang terjadi ketika Travis bertengkar dengan sopir Uber bernama Fawzi Kamel. Ketika tahu penumpang yang ia bawa adalah CEO Uber, Fawzi pun memprotes kebijakan Uber yang menurunkan tarif Uber Black. Fawzi merasa, kebijakan tersebut membuat ia kehilangan pendapatan sampai US$97 ribu. “Anda menaikkan standar layanan namun justru menurunkan tarif,” ungkap Fawzi. Namun Travis menolak tuduhan tersebut. “Beberapa orang tidak mau bertanggung jawab atas kesalahan sendiri. Mereka menyalahkan orang lain atas semua yang terjadi dalam hidup mereka!” ungkap Travis dengan nada ketus.

Pertengkaran yang terekam melalui dashcam mobil itu pun menjadi viral. Perkataan Travis yang merendahkan sang pengemudi Uber dianggap keterlaluan. Travis pun menyadari kesalahannya dan meminta maaf secara publik. “Insiden ini menyadarkan saya untuk mengubah perilaku saya dan menjadi lebih dewasa,” ungkap Travis dalam pernyataan tertulisnya. Pertengkaran Travis ini menjadi satu dari sekian insiden negatif yang menimpa Uber dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, mantan pegawai wanita Uber mengungkapkan budaya kerja Uber yang diskriminatif terhadap wanita. Uber juga mendapat protes keras karena tetap beroperasi ketika taksi di bandara JFK New York melakukan mogok untuk memprotes kebijakan imigrasi Presiden AS, Donald Trump. Akan tetapi, kasus yang mungkin paling fatal adalah tuntutan hukum yang dilakukan Waymo, unit di bawah Google yang menangani bisnis driverless car. Waymo menuduh, Uber telah mencuri teknologi driverless carnya melalui salah satu mantan pegawai Waymo.

Baca Juga  Headphone Minim Noise, Sennheiser Momentum Wireless On Ears

Kronologi

Kecurigaan Waymo berawal dari e-mail salah satu pemasok teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging) yang salah terkirim ke Waymo. E-mail bertajuk “Otto Files” ini berisi skema papan sirkuit LiDAR yang ternyata sangat mirip dengan desain milik Waymo. Otto sendiri adalah perusahaan yang didirikan oleh Anthony Levandonski, mantan engineer Waymo yang mengundurkan diri pada Januari 2016. Otto kemudian diakuisisi Uber pada Agustus 2016 dengan nilai US$680 juta. Berdasarkan penyelidikan, Levandonski memang melakukan beberapa tindakan mencurigakan. Ia terdeteksi pernah mengunduh 14 ribu berkas rahasia berukuran 9,7 GB terkait LiDAR. Ia juga langsung memformat laptop yang ia gunakan untuk mengunduh fi le tersebut, yang mengindikasikan caranya menutupi tindakannya.

Baca Juga  HP Samsung di Bawah 1 Juta

Levandonski kabarnya juga mengadakan pertemuan rahasia dengan pejabat eksekutif Uber ketika masih menjadi engineer di Waymo. Soal driverless car, Uber memang terpaksa harus agresif. Berdasarkan data tahun 2016 pengguna Uber sebenarnya hanya membayar sebanyak empat puluh persen dari keseluruhan nilai transaksi. Sisanya ditanggung Uber melalui subsidi menggunakan dana para investor (per tahun 2016, angka subsidi mencapai US$2 miliar). Namun strategi ini tentu saja tidak bisa dilakukan terus-menerus. Pilihannya tinggal dua: menaikkan tarif atau mengefi sienkan proses. Menaikkan tarif menjadi keputusan pelik mengingat harga adalah salah satu alasan konsumen memilih Uber dibanding taksi konvensional. Pilihan yang lebih menarik adalah mengefi sienkan proses dengan mengembangkan driverless car dan menghilangkan faktor pengemudi. Namun ketika teknologi driverless car membutuhkan waktu untuk dikembangkan, mudah untuk memahami mengapa Uber sampai nekat mencuri teknologi pesaing. Tuntutan tersebut memang harus dibuktikan di pengadilan. Namun Google boleh dibilang jarang melakukan tuntutan hukum, sehingga keputusan menuntut Uber dipastikan karena mereka memiliki bukti yang kuat. Dan jika terbukti benar, perkataan Fawzi itu mungkin akan menjadi kenyataan: Uber tidak akan melangkah jauh. Entah karena bangkrut karena harus membayar ganti rugi, atau kehilangan semua dana karena harus terus-menerus melakukan subsidi

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.