Perkembangan Otomotif di Indonesia

 News, Otomotif



[Total: 0    Average: 0/5]

Perkembangan Otomotif di Indonesia

Jika Indonesia sanggup dan konsisten berintegrasi dengan arus besar global supply chain, maka industri otomotif sebagai andalan ekonomi Nasional bukanlah mimpi belaka

Berbincang soal industri otomotif, sejatinya otomotif Indonesia sudah dimulai hampir dinamika empiris historis industri seabad yang lalu pada 1927. Cikal-bakal bisnis otomotif sudah mulai semenjak General Motors mendirikan pabrik perakitan di Tanjung Priok pada 1927, yang kedua di Asia setelah Yokohama Jepang. Alasan mereka memilih Jakarta ketimbang Singapura lantaran insentif kebijakan. Puluhan tahun berselang, tepatnya tahun 1969, William Soeryadjaja mengambil-alih pabrik General Motors 1927 dari status BUMN PN Gaya Motor yang kemudian menjelma menjadi salah satu kerajaan bisnis otomotif terbesar di Indonesia.



Potensi pasar otomotif Indonesia sangatlah besar. Dengan pertumbuhan perekonomian nasional di atas 5% menjadi keuntungan tersendiri bagi sektor industri otomotif Indonesia, ditengah pelambatan ekonomi global. Industri otomotif menjadi salah satu industri andalan pada kebijakan industri nasional yang juga memberikan nilai besar dalam produk domestik bruto. Berkaca pada 2016 saja, industri otomotif mencatatkan kontribusi subsektor industri alat angkutan terhadap PDB sektor industri non-migas sebesar 10,47%. Nah, lantas apa sih yang harus dikembangkan? Ceruk pasar yang besar itu akan tetap besar jika pemain industri otomotif menjadi pelakon utama. Secara fakta, beberapa APM asal Negeri Sakura sudah menanamkan investasi dalam bentuk pabrik dan fasilitas riset lokal.

Seperti Toyota, Daihatsu dan pabrikan Jepang lainnya. Tujuannya, selain menghasilkan produk kompetitif, juga untuk menekan biaya produksi. Menengok Potensi Pasar Linear dengan produk otomotif, pasar otomotif domestik paling potensial adalah pada mobil Multi Purpose Vehicle (MPV). Trennya dari tahun ke tahun semakin naik. Dari data Gaikindo saja pada 2016 penjualan MPV kembali meningkat sekitar 450 ribuan unit, dibanding 2015 sebesar 375 ribuan unit. Bahkan, mobil racikan anak bangsa berhasil menjadi salah satu ekspor andalan sektor industri otomotif nasional ke kancah pasar global. Ambillah contoh Toyota yang sudah lama berbisnis di sini. Sejak kehadiran generasi pertama pada Juni 1977, total penjualan Toyota Kijang di Indonesia hingga kini sudah mencapai lebih dari 1.750.000 unit dan merupakan angka penjualan tertinggi di segmen MPV Indonesia. Kijang juga merupakan model pertama Toyota yang memasuki pasar global di tahun 1987. Tidaklah berlebihan, jika keberhasilan Toyota Kijang membuka peluang terbentuknya segmen pasar MPV di Indonesia yang sampai saat ini merupakan ceruk pasar terbesar dalam kancah pasar otomotif nasional. Lihat saja dari data Gaikindo. Segmen MPV menguasai hampir 50% pasar otomotif nasional. Sejak pasar MPV berkembang pesat di era 1990-an, segmen ini menjadi yang paling dinamis.

Baca Juga  Cloud Computing Adalah, Manfaat Cloud Bagi Perusahaan

Tidak kurang dari 80 model MPV yang pernah masuk ke segmen MPV, dan sampai saat ini hanya 20 model yang bisa terus berlanjut, termasuk Toyota Kijang. Pada tahun 2016 saja, total penjualan Toyota mencapai 388.204 unit. Dari jumlah tersebut, 249.253 unit diantaranya berasal dari penjualan segmen MPV. Basis Produksi dan Andalan Ekspor Beberapa pabrikan seperti Toyota, Daihatsu, Suzuki, sudah melakukan produksi lokal MPV mereka. Bahkan sampai mengekspor ke luar negeri. Sementara Honda juga melakukan ekspor, bukan dalam bentuk kendaraan, namun part dari kendaraan. Sejalan dengan bertambahnya antusias konsumen domestik dan kebutuhan ekspor, ekspansi bisnis pun dilakukan dengan menambahkan pabrik dan melibatkan insinyur-insinyur lokal dalam proses pengembangan produk agar sesuai dengan kebutuhan konsumen dan kondisi lingkungan. Tak hanya kepentingan bisnis mereka semata, tapi juga untuk mendukung program pemerintah Indonesia memiliki basis produksi otomotif yang kuat. Dan tentunya hal ini sejalan dengan keputusan pemerintah mengenai keharusan industri otomotif di Indonesia untuk menggunakan komponen buatan dalam negeri dan kandungan lokal dalam jumlah tertentu.

Baca Juga  HP Oppo dengan Fitur Kamera setara DSLR

 

 

Sebagai pemain besar di sini, Toyota Indonesia terus meningkatkan kandungan lokal dari generasi ke generasi. Kandungan lokal mobil yang di awal kemunculannya terkenal dengan julukan “Memang Tiada Duanya” ini bergerak dari 19% pada Kijang generasi pertama menjadi 30% pada generasi kedua. Keseriusan untuk mening katan kandungan lokal terus ditunjukan dengan penambahan rasio lokalisasi Kijang menjadi 40% pada generasi ketiga, lalu berturut-turut menjadi 53% dan 75% pada generasi keempat dan kelima, hingga generasi terkini di angka 85%. Sementara jumlah pemasok lokal meroket dari 8 perusahaan menjadi 139 perusahaan. Tentunya ini juga berdampak pada semakin besarnya substitusi impor serta tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan produksi. “Kijang adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah perkembangan industri otomotif dan potret perkembangan sosial ekonomi bangsa Indonesia. Metamorfosa Kijang dari bentuk yang sangat sederhana di tahun 70-an menjadi kendaraan berkualitas global seperti sekarang ini menjadi cerminan bahwa kondisi sosial ekonomi serta kapabilitas industri di negeri tercinta ini meningkat pesat selama 40 tahun terakhir.

 

Selain itu harus kita akui bahwa Kijang adalah pionir dan tulang punggung serta model yang membuka jalan bagi model-model Toyota lainnya untuk bisa diproduksi secara lokal,” papar Presiden Direktur TMMIN, Warih Andang Tjahjono. Ekspor Kijang dengan volume rata-rata 50 unit per bulan hingga 2013 meningkat signifikan ketika ekspor Kijang Generasi 5, atau lebih dikenal dengan nama Kijang Innova, memberi peluang bagi Toyota Indonesia untuk memiliki akses yang lebih luas ke pasar manca negara. Sekarang, 30 tahun sejak ekspor perdana, volume dan negara tujuan ekspor Kijang Innova melonjak hingga ke kisaran 1,400 unit per bulan ditujukan ke 29 negara di kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin, Karibia, Oseania, dan Timur Tengah. Kijang Innova dikapalkan melalui terminal khusus ken daraan utuh di Pelabuhan Tanjung Priok yang dilengkapi dengan fasilitas fisik dan non-fisik modern guna menjamin kendali mutu Kijang Innova dan produkproduk ekspor lainnya. Dalam siklus seabad industri otomotif Indonesia, terjadi keunikan sejarah bahwa General Motors berpatungan dengan SAIC Tiongkok untuk membuka pabrik Wuling di Bekasi. Hal ini seakan kembali mengingatkan kita kepada fenomena 1927, ketika General Motors memilih Tanjung Priok sebagai lokasi perakitan mobil General Motors kedua di Asia setelah Jepang. Tidak ketinggalan Mitsubishi juga mulai melakukan perakitan lokal Xpander yang direncanakan akan diekspor. Jika pemerintah mencanang kan otomotif sebagai salah satu industri utama, maka Indonesia harus sukses ber integrasi dengan arus besar global supply chain industri otomotif. Jika semua pihak terkait mau bersungguhsungguh belajar dari riwayat jatuh bangun imperium otomotif Indonesia karena ayunan pendulum kebijakan, Indonesia akan merayakan seabad industri otomotif Indonesia pada 2027 sebagai andalan ekonomi Nasional, dengan atau tanpa brand lokal, tetapi mampu menjadi bagian global supply chain otomotif global.

Baca Juga  Rekomendasi Wireless Router dengan Koneksi Cepat untuk Gedung dan Kantor

Artikel yang kamu Cari ga ktemu? Cari disini. Teknorus.com

Author: 

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.