Begini Cara Melatih Anak untuk Pamit

 Kesehatan dan Gaya Hidup

Begini Cara Melatih Anak untuk Pamit

Baru saja mengusap bedak, si kecil sudah menempel. Begitu kelar dandan, dia malah memegangi baju dan menguntit ke mana pun kita pergi. Saat Anda tersenyum padanya, lalu pamit sambil melambaikan tangan.. meledaklah tangisannya. “Enggak cuma saat aku berangkat kerja, mau ditinggal sebentar ke minimarket saja, anakku langsung mewek,“ cerita Audrey tentang Madya, putrinya yang berusia 2 tahun. Tapi kenapa Audrey tak risau, santaisantai saja? Karena menurutnya, tingkah putrinya semacam itu sudah biasa. “Anak di usia itu masih beranggapan jika sesuatu atau seseorang tidak terlihat, terdengar, tersentuh, maka sesuatu atau seseorang itu hilang. Ini biasanya akan berkurang saat anak masuk usia 2-3 tahun,” jelas Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan UI ini. Toh di saat kita sudah menghilang dari pandangannya, kan dia mulai sibuk bermain lagi. Akan tetapi, bagaimana kalau dia masih terus menangis, bahkan sampai meratap lama, dibujuk, dialihkan pada kegiatan lain, tetap tak mau? Nah, kalau sudah begini coba ditelusuri penyebabnya. Jangan-jangan anak merasa ada yang membuatnya lebih tidak nyaman di saat Anda pergi. Misal, dia punya pengasuh baru. Kalau ini masalahnya, beri waktu pada anak untuk lebih mengenal pengasuhnya. Sebelum Anda pergi, biarkan dia bermain  Si kecil ngamuk saat kita tinggal pergi, itu soal biasa.Yang penting, kita jangan ketularan baper (terbawa perasaan), karena ada satu hal yang wajib kita lakukan. berdua saja dengan sang pengasuh, sementara Anda mengamati dari jauh.

Baca Juga  Inilah Jam Tangan yang Sering di Pakai Artis Indonesia



Kelekatan Berlebihan

Namun, menurut Vera, rekan kita yang psikolog itu, orangtua yang kelewat melindungi (over protektif) juga bisa jadi penyebab anak sulit ditinggal. “Sehingga anak tidak pernah punya kesempatan untuk mengandalkan diri sendiri, merasa selalu harus dibantu, dan merasa tidak bisa apaapa tanpa orang tua di dekatnya. Anak pun menjadi kurang mandiri karena bergantung pada orang tua dalam segala hal.” Jadi, meskipun baru batita kita perlu melatih kemandirian anak. Misal, si kecil sudah dilatih mengambil minum atau makan sendiri. “Latihan ini penting agar anak merasa dapat mengandalkan dirinya tanpa selalu bergantung pada orang lain,” tutur Vera. Anak juga perlu melakukan aktivitasnya sendiri. Biarkan sesekali dia melakukan solo play (bermain sendiri), dengan Anda ada di ruangan berbeda atau Anda ada di ruangan sama tapi melakukan kegiatan lain. Untuk selanjutnya, si kecil perlu dilatih untuk ditinggal secara bertahap, agar dia percaya bahwa orangtua meski pergi pasti akan kembali lagi. Umpama, ditinggal beberapa menit ke kamar mandi, lalu meningkat ditinggal lebih lama untuk sekadar ke minimarket dekat rumah. Cara lain, lanjut Vera, adalah meluangkan waktu untuk anak sebelum Anda pergi. Ajak anak melakukan aktivitas bersama, misalnya menggambar dan mewarnai. Anak akan merasa senang dan kebutuhan akan perhatiannya dari orangtua terpenuhi. Saat orang tua pamit, anak akan berada dalam kondisi emosi yang lebih positif untuk melepas orangtuanya. Satu yang tak kalah penting, jika anak tetap menangis, kita jangan cemas. Apalagi jadi baper. Agar kita bisa tenang saat berpamitan dengannya. Jangan pernah, meninggalkan anak diam-diam, karena ini akan membuat anak justru tidak memercayai orangtuanya dan memperbesar kecemasannya. Memang tidak serta merta mudah. Karenanya, perlu dilatih. Dengan adanya latihan perpisahan ini, lama-lama anak pun memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kepergian orang tuanya. Dia akan terbiasa dengan pola bahwa meski pergi, orang tuanya akan kembali pulang lagi. Seperti juga, satu hari kita pun juga harus berlatih—jika si kecil yang akan pergi, kelak

Baca Juga  Apa itu Sinusitis dan Gejalanya

Artikel yang kamu Cari ga ktemu? Cari disini. Teknorus.com

Author: 

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.