Ketika Depresi Lebih Baik ke Psikolog atau Psikiater ?

 Kesehatan dan Gaya Hidup

Ketika Depresi Lebih Baik ke Psikolog atau Psikiater

Sebenarnya banyak orang yang sudah menyadari, dirinya butuh pertolongan profesional untuk kondisi mental atau kejiwaannya, tetapi enggan datang. Umumnya, gara-gara bingung harus ke mana. Belum lagi pendapat masyarakat yang cenderung berprasangka kalau ke psikolog atau psikiater itu pasti sakit jiwa alias gila.



Stigma masyarakat memang berpengaruh besar terhadap enggannya seseorang berkonsultasi pada psikolog dan psikiater. Jamak orang beranggapan kalau gejala penyakit kejiwaan itu adalah hal yang remeh. Stres dianggap biasa, depresi dianggap lumrah. Dan berbagai gejala gangguan kejiwaan lainnya dipandang sebelah mata. Seolah semua gangguan itu bisa sembuh dengan sendirinya. Padahal situasi gangguan mental atau kejiwaan itu perlu ditangani dengan serius dan tepat waktu. Karena faktanya, gangguan jiwa yang dibiarkan bisa bikin hidup makin susah, baik si penderita maupun orang-orang di sekitarnya. Yang menangani pun bukan orang sembarangan, harus mereka yang profesional di bidangnya . “Ada pula yang sinis kalau kondisi medis kejiwaan itu dianggap karena kelemahan pribadi atau karena kadar keimanan yang lemah,” kata dr. Ashwin Kandouw, Sp. KJ, dari RS Pondok Indah-Bintaro Jaya, Jakarta. Belum lagi ada yang berpikir orang terganggu kesehatan jiwanya karena kutukan bahkan santet. Padahal, lanjut dia, masalah mental atau kejiwaan seseorang itu adalah masalah medis. Sama halnya seperti penyakit jasmani. Selain itu, seperti yang diungkap psikolog asal AS, Mary Alvord, Ph.D, kebanyakan orang enggan datang pada psikolog gara-gara stigma masyarakat soal penyakit jiwa itu berarti gila. Padahal bukan berarti semua orang yang membutuhkan terapi kejiwaan itu adalah gila. Stigma pada penderita penyakit mental memang masih negatif. Akibatnya banyak orang yang malu mengakui saat ia merasa ada yang janggal pada dirinya sendiri. Ada pula yang menganggap, berkunjung ke psikolog atau psikiater bisa jadi memakan waktu lama dan bikin ketergantungan. Padahal menurut Mary, perawatan kesehatan jiwa tidak begitu. Ia bahkan memiliki pasien yang hanya memerlukan dua sesi konsultasi dalam setahun. Jadi semua ketakutan itu sebetulnya tidak benar.

 

Harus ke mana?

Sama seperti sistem imun dalam tubuh manusia, sistem pertahanan diri seseorang untuk kesehatan mental atau jiwanya juga berbedabeda. Dengan berbagai penyebab pula, ada kalanya seseorang tidak mampu bertahan. Karena itulah ia membutuhkan pertolongan. Terganggunya kesehatan kejiwaan bisa saja muncul dari berbagai faktor seperti sakit fsik, trauma masa kecil, masalah keluarga, pekerjaan, hubungan dengan sesama, juga kelainan. Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah ada batasan masalah sampai harus pergi ke psikiater atau psikolog? Harus kepada siapa dulu, psikolog atau psikiater? Perlukah bantuan profesional? Apakah benar psikolog dapat memecahkan masalah yang ada? Apa mungkin saya nyaman berbicara dengan psikolog atau psikiater? Mari kita telusuri bersama. “Beban pekerjaan berat banget, masalah juga enggak selesai-selesai, stres rasanya,” cerita Pian Hapsari (29), karyawan swasta di Jakarta.

Baca Juga  Apa Perbedaan Pemimpin dengan BOS

 

Alasan inilah yang bikin Pian ingin mencari jalan keluar lewat konsultasi dengan psikolog. Menurut dia, kalau beban yang dirasakan sudah terlalu berat, bercerita dengan orang terdekat justru tidak membantu. Karena itu, ia memilih berbagi masalah pada psikolog saja. Bagi Pian, bercerita di hadapan psikolog yang adalah “orang asing” lebih melegakan. Psikolog dianggap dapat menjadi pendengar yang baik dan pemberi saran yang netral. Seperti yang pernah dialami Jelita Maria (21) ketika menghadapi perkuliahan semester akhir di kampusnya. Sejak awal Jelita memang sudah tertekan, karena ia dipaksa orangtua masuk ke jurusan yang tidak disenanginya. Walhasil, tak kuat menghadapi tekanan itu, ia stres berat. Setiap kali mengingat tugas akhir kuliah, ia bisa histeris. Jadilah Jelita dibawa konsultasi ke psikolog. Rupanya konsultasi itu sangat membantu, kini Jelita pun lulus dengan mulus. Jika problem dalam diri sudah menunjukkan gejala yang tidak biasa, mengganggu produktivitas, dan berdampak dalam aspek kehidupan yang lain, saatnya mencari pertolongan yang lebih serius.

 

Pastilah semua jenis gangguan itu pasti memiliki tanda dan gejala. Nah, kunjungan ke profesional sebaiknya sudah dimulai sejak gejala itu muncul. Bukan setelah parah atau bahkan sudah “sinting”. Apalagi kalau problem itu sudah mengancam nyawa. Depresi, misalnya. Persoalan ini makin banyak diderita orang zaman sekarang. Situs kesehatan WebMD dalam artikel Depression: Finding a Doctor or Therapist menyebutkan, sering kali penderita depresi bingung harus berobat ke psikolog atau psikiater. Walau sebetulnya situasi ini bisa ditangani dua ahli profesional tersebut.

Beda pendekatan

Agar tidak bingung pertama sekali perlu dipahami terlebih dulu perbedaan antara kedua profesi ini. Perlu diketahui, psikolog dan psikiater menggunakan pendekatan yang berbeda dalam penanganan, tergantung pada jenis masalah kejiwaan yang dialami. Psikiater, jelas Ashwin, pada dasarnya adalah dokter yang menatalaksana pasien dengan pendekatan bio psikososial. Artinya, dalam penanganan masalah kejiwaan ia berhak dan berwenang secara klinis untuk memberikan obat-obatan sesuai yang dibutuhkan pasien. Psikiater juga dapat memberikan psikoterapi sesuai dengan kebutuhan pasien. Sedangkan psikolog, umumnya melakukan pendekatan psikologi melalui psikoterapi dan juga pendekatan sosial. Dari penjelasan itu, untuk penanganan depresi tadi misalnya dapat berkonsultasi dengan psikolog dan psikiater. Adakalanya masalah kejiwaan itu tepat ditangani psikolog, ada kalanya juga pada psikiater. Tergantung kondisi apa yang harus dibereskan terlebih dulu dari si penderita. Seperti yang dialami Jenny (22) yang stres berat ketika menghadapi masa-masa bikin skripsi. Masalahnya, yang dialami Jenny bukan stres biasa. Ia bahkan terpikir untuk bunuh diri dan cenderung melukai diri sendiri (self harm). Akhinya, ia dibawa orangtuanya ke psikiater dan didapati bahwa dirinya mengalami gangguan depresi. Dari situ, Jenny secara bertahap berkonsultasi dengan psikiater. “Pada psikiater, kita bisa mencurahkan segalanya, rasanya lega sekali setelah cerita,” tutur Jenny.

Baca Juga  10 Tips Diet Sukses, Sehat, Alami, Cepat dan Ampuh

 

Selama ini ia tidak berani bercerita pada siapapun karena takut dinilai atau malah digurui. Itulah sebabnya, bagi Jenny, penanganan dari psikiater sangat membantu mengatasi gangguan depresi berat yang dialaminya. Jenny dan Jelita memiliki akar masalah yang sama, namun bisa jadi kemampuan keduanya untuk menanggung masalah berbeda. Walau mereka memiliki persoalan kejiwaan yang terlihat serupa,penanganannya ternyata berbeda. Jelita, pulih dengan pertolongan psikolog. Sedangkan Jenny, psikiaterlah yang membantunya. “Sebenarnya dalam proses penanganan dan perawatan kejiwaan itu, psikolog dan psikiater dapat bekerja sama,” ungkap Ashwin. Perbedaan mendasar antara psikolog dan psikiater, kata Ashwin lagi, dapat dilihat dari pendidikan yang ditempuh. Psikiater, merupakan lulusan dari fakultas kedokteran umum yang kemudian melanjutkan pendidikan dokter spesialis kedokteran jiwa. Sedangkan psikolog, merupakan lulusan fakultas psikologi yang kemudian mengambil kuliah lanjutan untuk profesi psikolog. Psikolog dalam profesinya tidak meresepkan obat seperti yang dilakukan psikiater. Mereka menggunakan pengetahuan, penelitian, teori, dan terapi psikologi untuk melakukan diagnosis. Psikolog juga memiliki spesialisasi khusus untuk melakukan tes psikologi terhadap orang lain. Dalam hal pemberian obatobatan, psikiater berwenang melakukannya karena mereka sebetulnya adalah dokter. Selain melakukan psikoterapi, psikiater juga melakukan evaluasi terhadap penderita, misalnya memutuskan apakah penderita memerlukan perawatan dengan obat atau tidak.

 

Kapan harus berkonsultasi?

Ada masanya, setiap orang mengalami stres, tekanan, kesedihan, dukacita, kon?ik, dan situasi sulit. Sebagian orang di antaranya, dapat mengalami masalah pada kesehatan jiwanya ketika menanggung semua itu. Nah, jika seseorang merasa ada yang salah pada kesehatan jiwanya, itulah saat yang tepat untuk mencari pertolongan. Masalahnya seringkali seperti yang telah dibahas tadi, banyak orang yang enggan untuk berkonsultasi. Mungkin persoalannya juga terletak pada ketidaktahuan. Misal, apakah pantas saya mendatangi psikolog atau psikiater hanya karena stres? Apakah perlu mendatangi profesional ketika gejala kecemasan muncul? Keraguan-keraguan seperti itu yang menghambat. Pada laman psikologi Psychcentral.com dalam artikel It’s Time to See a Therapist, Mary menyebutkan setidaknya ada beberapa gejala dalam diri yang mengindikasikan seseorang membutuhkan bantuan profesional. Salah satu gejalanya ketika merasakan perasaan sangat intens lebih dari biasanya. Misalnya, perasaan marah, cemas, gelisah, dan sedih. Semua jenis perasaan ini sangat wajar dalam diri manusia. Namun jika intensitas merasakannya sudah berlebihan sehingga mengganggu hidup, itulah saat yang pas untuk berkonsultasi. Ada juga orang hilang kontrol terhadap dirinya, sehingga ia menjadi candu terhadap sesuatu. Misalnya tidak bisa berhenti belanja, sekalipun kondisi keuangannya sudah tak memungkinkan. Termasuk pula keadaan di mana seseorang makan berlebihan atau tidak berminat makan sama sekali. Ada pula masalah trauma yang tidak terlupakan. Misalnya rasa duka yang mendalam karena kematian orang yang terkasih, patah hati, kehilangan pekerjaan, bangkrut, dll. Sekiranya luka yang dirasakan tak sembuh juga seiring waktu, segeralah cari pertolongan. Karena jika dibiarkan, dukacita itu bisa memicu masalah .

Baca Juga  Solusi Nyeri Sendi

 

Misalnya, orang tersebut menarik diri dari kehidupan sosial, sulit tidur, merasa diri tidak berguna, murung, mood tak beraturan, dll. Selain itu, muncul masalah pada kesehatan fsik. Jika kondisi emosional seseorang terganggu, maka kondisi itu akan berdampak pada kesehatan fsiknya. Contohnya, demam, sakit kepala, sakit perut, bahkan kehilangan gairah seks dalam jangka waktu lama. Ketika seseorang mulai mencari pelarian terhadap masalah dirinya, itu pun bisa jadi indikasi. Misalnya merokok, minum alkohol, atau konsumsi obat penenang. Hal ini mengindikasikan dirinya berharap dapat melupakan kesulitan pribadi yang tengah dihadapinya. Kondisi ini juga menunjukkan seseorang tersebut sedang berjuang melawan stres. Ketika mengalami situasi kejiwaan yang tidak stabil, banyak aspek hidup yang menerima imbasnya. Misalnya, kebencian terhadap pekerjaan semakin menjadi, padahal sebelumnya sangat menikmati. Muncul penurunan drastis dari kualitas aktivitas yang biasa dilakukan. Tidak hanya itu, hubungan dengan orang sekitar juga turut terganggu, bahkan rusak. Parahnya, ketika muncul keinginan untuk melukai diri sendiri atau bunuh diri. Banyak berkhayal soal cara-cara bunuh diri (suicidal thought), berhalusinasi, delusi, dan perilaku tidak biasa lainnya. Jika semua gejala dan tanda ini mulai muncul, jangan ragu untuk mencari pertolongan. Segera

 

MASALAH PSIKIS YANG MEMBUTUHKAN BANTUAN PROFESIONAL

Jika tidak sanggup menanggungnya sendirian, maka carilah pertolongan. Berikut beberapa alasan mengapa orang perlu datang ke psikolog atau psikiater. Jika Anda mengalami salah satunya, jangan takut berkonsultasi dengan mereka yang ahli.

  • KEHILANGAN Tidak mampu menahan kesedihan pascakehilangan orang yang terkasih bisa saja menimbulkan problem. Misalnya menarik diri, sedih berkepanjangan, kehilangan motivasi hidup, dsb stres dan cemas Semua orang pasti pernah stres, tapi tidak semua orang dapat mengendalikan stres itu. Akibatnya kecemasan muncul, berakhir pada mengisolasi diri dari kehidupan sosial, depresi, dan problem mental lainnya
  • DEPRESI Semua orang pasti pernah stres, tapi tidak semua orang dapat mengendalikan stres itu. Akibatnya kecemasan muncul, berakhir pada mengisolasi diri dari kehidupan sosial, depresi, dan problem mental lainnya
  • FOBIA Ada banyak jenis fobia yang menunjukkan ketakutan seseorang terhadap hal-hal yang biasa. Takut makan, takut ketinggian, dan fobiafobia lainnya.
  • MASALAH KELUARGA Ada banyak jenis fobia yang menunjukkan ketakutan seseorang terhadap hal-hal yang biasa. Takut makan, takut ketinggian, dan fobiafobia lainnya.
  • KECANDUAN Ada banyak jenis fobia yang menunjukkan ketakutan seseorang terhadap hal-hal yang biasa. Takut makan, takut ketinggian, dan fobiafobia lainnya.
  • GANGGUAN MENTAL Kondisi kesehatan mental juga dapat terganggu karena berbagai faktor dan termanifestasi dalam berbagai jenis juga. Misalnya depresi, skizofrenia, bipolar, psikopat, sosiopat, obsesif kompulsif, antisosial, self harm, Posttraumatic stress disorder (PTSD), dll.

Artikel yang kamu Cari ga ktemu? Cari disini. Teknorus.com

Author: 

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.