Ini Tren Bisnis Kuliner yang Cocok di Tahun ini

  • Whatsapp
[Total: 0    Average: 0/5]

Tren Bisnis Kuliner yang Cocok di Tahun ini

Sesuai penanggalan Tionghoa, 16 Februari 2018 akan memasuki Tahun Baru Imlek. Momen ini ditandai dengan tahun Anjing Tanah. Pergantian tahun ini tentu akan berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan, termasuk di bidang kuliner. Nah, ahli feng shui dan bazi, Erwin Yap, akan memprediksi kuliner yang akan menjadi tren di sepanjang tahun 2018 atau berdasarkan shio Anjing berunsur Tanah. Dunia kuliner pada tahun lalu yang berlambang shio Ayam Api, memang sungguh semarak. Berbagai kuliner unik dan menarik merebak sangat cepat, bak tumbuhnya jamur di musim penghujan. Pertumbuhan itu tak hanya terjadi di pusat kota Jakarta. Namun mampu menarik perhatian masyarakat di berbagai pelosok daerah di Indonesia. Dari kreasi bakso beranak, martabak telur bertoping lelehan keju mozzarella, cheese cake, hingga kue berwarna red velvet atau serupa pelangi, bahkan makanan serba hitam atau ungu. Sungguh memesona dan menggugah selera, kan? Namun tampaknya tren kuliner yang ngetren di tahun 2017 itu akan mengalami perubahan di tahun Anjing Tanah ini, akibat unsur tanah yang sangat mendominasi di tahun 2018 ini. Menurut Erwin Yap, di awal tahun ini tak hanya memasuki tahun bershio Anjing saja, tetapi shio Anjing mengandung unsur tanah. Dan di dalam dunia kuliner, unsur tanah disimbolkan dengan cita rasa manis. Artinya, rasa manis pada makanan yang muncul di tahun ini cenderung dominan dan pekat (kuat). “Nah, yang terjadi adalah cita rasa manis ini bisa membuat penikmatnya merasa enek dan tak baik untuk tubuh,” ujar Erwin. Meski pun pada kenyataannya hidangan bercita rasa manis memang sangat digemari berbagai kalangan usia, baik muda maupun tua.

Baca Juga  Wisata Kuliner Asyik di Jakarta

Maka Erwin menyarankan, agar menambahkan elemen logam sebagai penyeimbangnya. Elemen logam ini disimbolkan dengan cita rasa pedas. Salah satu contoh sajiannya adalah keripik balado khas Minang. Cita rasanya manis sekaligus diselimuti sentuhan rasa pedas. Unsur tanah dan logam juga bisa diaplikasikan pada kreasi sambal botol, seperti sambal rujak. “Atau asinan buah segar, yang mengandung rasa manis dan pedasnya,” ujarnya lagi. Jenis hidangan ini, lanjutnya, bisa juga coba ditawarkan oleh para pengusaha kuliner baru. Di samping itu, unsur logam disimbolkan dengan cita rasa yang pekat plus tajam. “Misalnya pada cheese stick. Nantinya, cheese stick yang muncul di tahun Anjing Tanah bisa lebih tajam lagi rasa kejunya. Atau, daging yang diolah dengan bir atau soda yang menghasilkan cita rasa yang cenderung tajam,” sambung Erwin.

 

WARNA NATURAL & SAJIAN TRADISIONAL

Tak hanya itu, ia menambahkan, tren makanan berwarna juga tetap akan kembali muncul di tahun Anjing Tanah. Namun bukan warna yang kuat seperti halnya tren di tahun Ayam Api lalu. Ia justru memprediksi warna hijau yang terkesan lebih natural diperkirakan akan nge-tren di tahun Anjing Tanah. Sumber warnanya, bisa memanfaatkan daun suji, daun pandan, atau sayuran seperti bayam dan sawi. “Selain dibuat makanan, para pengusaha juga bisa menampilkan warna hijau dalam bentuk jus sayur,” ucap seraya menambahkan, agar ada penyeimbang rasa pedasnya, bisa ditambahkan daun mint. Di samping hijau, warna putih pada makanan diperkirakan juga akan ngetren. Nah, wujud makanan berwarna putih itu, digambarkan Erwin muncul pada hidangan yang menggunakan bahan santan, seperti sayur lodeh. Tren kuliner mewah yang sempat merajai di tahun Ayam Api, tak akan meramaikan di tahun Anjing Tanah ini. Nuansa makanan bergaya rumahan yang sederhana namun bisa membangun suasana kekeluargaan dan keakraban satu sama lain justru diprediksi akan naik daun. Misalnya saja hidangan yang bisa disantap bersama-sama, seperti nasi tumpeng atau nasi liwet Tren makan bareng sambil lesehan ini memang mulai tampak di akhir tahun 2017 lalu. Tak heran bila semakin banyak muncul pengusaha kuliner yang menyediakan menu liwetan yang menyajikan hidangan tradisional di atas daun pisang. “Usaha rumahan seperti itu akan lebih banyak lagi bermunculan dan peluangnya lebih cerah,” ujar Erwin. Namun hal positif ini berbanding terbalik dengan para pengusaha restoran. Erwin menyampaikan, perekonomian secara global cenderung stagnan. Sehingga omzet para pebisnis resto secara umum akan menurun. Terlebih bagi para pebisnis yang menawarkan konsep resto dengan spesifkasi makanan tertentu. Popularitas resto seperti itu diprediksi juga akan berkurang. Termasuk resto berkonsep high class. “Meski pun begitu, tentu ada anomalinya. Yakni, orang-orang yang sudah bernasib bagus dan memang cocok berwirausaha di bidang kuliner, tak akan tergoyahkan,” timpalnya.

Baca Juga  Rekomendasi Restoran Makanan Sehat di Jakarta

DISERTAI EDUKASI

Untuk menyiasati hal yang kurang menguntungkan ini, Erwin menyarankan agar pihak resto mulai membuka kegiatan cooking class untuk masyarakat umum. Cooking class merupakan aktivitas berunsur kayu (edukasi) yang dapat menyeimbangkan energi tanah. “Pihak resto bisa mengadakan cooking class membuat steak rib eye, misalnya. Sambil menjelaskan alternatif dan cara membuatnya di rumah,” ungkapnya. Bisa juga melakukan re-assasment atau penilaian ulang pada jajaran manajemen pihak resto. Aktivitas re-assasment ini merupakan bagian dari unsur logam yang dapat menyeimbangkan unsur tanah. “Sebaiknya re-assasment dilakukan di awal tahun, sebelum muncul masalah,” saran Erwin. Dan selain soal rasa pada hidangan, presentasi kemasan makanan juga tak kalah penting di mata Erwin. Akan tetapi, menurutnya, pebisnis kuliner tak perlu repot memikirkan konsep kemasan mewah dan elegan seperti yang ngetren di tahun Ayam Api lalu. Di tahun Anjing Tanah ini, kemasan sederhana dan simpel akan lebih menonjol. Bisa menggunakan kertas merang atau kertas daur ulang unuk dijadikan kemasan makanan. Bahkan, jika memungkinkan, kata Erwin, dedaunan juga bisa mempresentasikan makanan dengan sangat menarik. “Daun pisang memang tidak canggih, tetapi tak akan membuat orang bosan. Unsur kesederhanaan ini muncul akibat berpengaruh dari situasi ekonomi di tahun Anjing Tanah yang cenderung stagnan,” pungkas Erwin.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.