Cara Mengetahui Pasangan Berbohong Selingkuh dari Ekspresi Wajah

  • Whatsapp

Cara Mengetahui Pasangan Berbohong Selingkuh dari Ekspresi Wajah

Di kantor penyelidik federal, seorang tersangka kasus pengeboman tengah menghadapi pertanyaan dari Dr. Cal Lightman, interogator yang disewa penyelidik. Namun tersangka tampaknya berencana untuk diam seribu bahasa. “Dia tak akan berbicara,” pengacara terdakwa berkata kepada Cal. Sambil melihat tersangka di hadapannya, Cal hanya menanggapi santai, “Tak masalah, aku sendiri tidak terlalu percaya pada katakata. ” Mulut boleh irit bicara, tapi setelah didesak berbagai pertanyaan, Cal berhasil mendapat jawaban. “Nah, itu dia, bom ada di dalam gereja di kota Lorton,” kata Cal pada agen FBI di luar ruang interogasi. Tentu saja sang pengacara kaget bukan main. “Itu tuduhan tak mendasar!” tutur dia menyergah. “Apa maksudnya? Dia baru saja ‘mengatakannya’ padaku,” balas Cal

Tentu saja para agen dan pengacara kebingungan, sebab sedari tadi si tersangka tak memberi banyak informasi. Meski akhirnya memang terbukti, sejam kemudian FBI mendapati sebuah bom pipa di gereja tersebut. Cal Lightman memang hanya karakter fiktif di serial film Lie To Me. Namun sosok itu sendiri diadaptasi dari sosok Paul Ekman, ahli mikro ekspresi ternama di Amerika Serikat. Profesor dari Adelphi University ini telah empat puluh tahun mempelajari ekspresi wajah dari seluruh belahan dunia. Bahkan ia mengamati sampai ke suku-suku New Guinea, pasien skizofrenia, mata-mata, pembunuh berantai, dan pelaku-pelaku kriminal lain. Tak heran kalau Hu ngton Post menyebut Ekman, manusia pendeteksi kebohongan terbaik di dunia. Karena kepakarannya itu, ia menjadi penasihat ekspresi wajah bagi agen-agen pemeritah yang berhubungan dengan keamanan, seperti FBI, CIA, kepolisian, kelompok antiterorisme, dll.

Bohong, bagian dari hidup

Istilah mikro ekspresi memang belum terlalu populer. Secara singkat, inilah ekspresi wajah seseorang dalam waktu singkat yang menunjukkan emosi sebenarnya. Sifatnya alami. “Munculnya cepat banget, sekitar 0,4 detik karena ada sebuah pemicu emosi,” jelas Monica Kumalasari, satu dari sedikit ahli mikro ekspresi di Indonesia. Untuk mengenal lebih jauh tentang mikro ekspresi, kita bisa memahami dulu mengapa kita berbohong. Ada seribu satu alasan kita melakukannya. Bahkan, bukan rahasia, kalau tindakan ini telah menjadi bagian dari hidup manusia dan mencirikan perilaku kita selama berabad-abad lamanya. Dr. Tim Levine, pakar behavioural science dari University of Alabama, menyebut tentang berbagai alasan manusia berbohong. Mulai dari menghindar, niat jahat, membantu orang lain, keuntungan pribadi, keuntungan ekonomi, membentuk citra, hingga kesalahan pribadi. Kesalahan pribadi ini terkait menutupi kesalahan atau kelakuan buruk.

Contoh Ryan Lochte, perenang AS pada Olimpiade 2016 yang mengaku dirampok di SPBU. Padahal, peristiwa sesungguhnya, dia dan rekannya mabuk dalam sebuah pesta dan ditanyai oleh satpam bersenjata setelah merusak barang. Meski dalih dari orang yang berbohong bisa berbeda satu sama lain, tapi ujung-ujungnya sama, yaitu mencapai sebuah tujuan. “Kita berbohong kalau kejujuran tidak berhasil,” terang Levine. Saat ini kita beruntung karena ilmu pengetahuan bisa bisa mendeteksi potensi kebohongan di balik tindak tanduk atau ucapan seseorang. Bahkan dengan mikro ekspresi bahkan bisa diketahui perasaan seseorang yang sesungguhnya. Meski mereka berusaha menyembunyikannya. Kejujuran atau kebohongan itu bisa terungkap dari pergerakan otot-otot wajah. Pergerakan otot wajah berpengaruh terhadap emosi yang kemudian menciptakan perilaku seseorang. Ekspresi wajah mampu mengungkapkan kebenaran perilaku seseorang. Menariknya, meski setiap orang memiliki wajah dengan ciri dan keunikan masing-masing, tapi tanda-tanda emosinya bisa sama. “Mau orang Afrika, Papua, Australia, semuanya sama—universal,” jelas Monica yang berlisensi Paul Ekman International di Manchester, Inggris.

Baca Juga  RAHASIA !!! Cara Mengetahui Kepribadian Orang dari Matanya

Risetnya di Papua

Wajar jika pada awalnya orang meragukan tentang hubungan antara perilaku dan ekspresi wajah di seluruh dunia yang sama. Namun dalam studinya, Ekman membuktikan ekspresi itu benarbenar universal. Begitu pula dengan riset yang dilakukan rekanrekannya. Sayangnya, ketika temuan itu diumumkan dalam konferensi antropologi nasional pada 1969, rupanya banyak ahli tidak antusias. Ahli-ahli yang kontra yakin kalau perilaku manusia semuanya merupakan pemeliharaan, bukan perilaku alami. Jadi, ekspresi harus berbeda pada masing-masing budaya. Menanggapinya, Ekman menulis dalam bukunya Emotions Revealed: “Cara terbaik menghilangkan kecemasan mereka (ahli-ahli) adalah dengan mengulangi seluruh kajian dalam budaya yang terisolasi dan tidak terpelajar.”Karena perdebatan itulah, sejumlah ahli kembali meneliti.

Hasilnya, antroplog Karl Heider kembali dengan sempurna mengulangi penemuan-penemuan Ekman, setelah menghabiskan beberapa tahun studinya di suku Dani. Sebuah suku yang hidup terisolasi di pedalaman Papua. Dalam menangkap ekspresi wajah, Ekman pun membuat alat pengukur wajah disebut Face Action Coding System (FACS) atau Sistem Pengodean Aksi Wajah. Alat ini mampu mengindentifikasikan tandatanda wajah yang menyingkapkan sebuah kebohongan. Mikro ekspresi, gerakan wajah sangat cepat atau kurang dari seperlima detik, menjadi satu sumber “bocoran” yang penting. Kebocoran inilah yang menampakkan emosi seseorang yang tengah berusaha disembunyikannya. “Jadi, tanpa mengatakan sesuatu, kita bisa tahu seseorang berbohong atau tidak, karena dia mengekspresikannya,” jelas Monica. Pendeknya, emosi seseorang memang akan selalu sama, baik antara bintang film Hollywood maupun preman di daerah Tangkiwood, Jakarta Barat. Karena kebenaran telah tertulis di wajah kita.

Melihat dari alis dan bibir untuk Mendeteksi Kebohongan

Salah satu kebohongan paling fenomenal di dunia adalah ketika Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, memberi keterangan publik tentang hubungan asmaranya dengan Monica Lewinsky. “I did not have sexual relations with that woman,” ujar Clinton di hadapan anggota Kongres Amerika Serikat. Monica mengatakan, bahasa tubuh dan ekspresi Clinton kala itu memiliki banyak “kebocoran”. Mulai dari pergeseran posisi tubuh hingga terbesitnya ekspresi yang disebut Ekman sebagai “contempt” yakni rasa jijik, muak, merendahkan, atau penghinaan pada seseorang. Penyangkalan Clinton soal a­air-nya belakangan memang terbukti tidak benar. Sang Presiden mesti menanggung malu setelah ditemukannya DNA-nya dalam titik-titik noda di pakaian Lewinsky. Noda-noda apa? Tentu detailnya hanya kedua sejoli itu yang tahu. Kembali ke laptop, Ekman mengatakan setidaknya ada lima emosi yang sering menyelimuti wajah seseorang tiap hari. Mulai kesedihan atau penderitaan, kesenangan, kemarahan, terkejut atau takut, hingga rasa jijik atau muak. Dalam Emotions revealed Ekman menjelaskan, emosi-emosi ini menghasilkan perubahan pada bagian-bagian otak kita. Perubahan pada bagian otak itu juga menyebabkan perubahan dalam saraf otonomis kita.

Baca Juga  4 Cara Mengobati Radang Sendi Secara Alami

Nah, saraf inilah yang mengatur detak jantung, napas, keringat, serta perubahan badaniah kita yang lain. Termasuk ekspresi, suara, dan postur tubuh. Emosi juga mengeluarkan sinyalsinyal yang mengubah ekspresi dan wajah, suara, dan postur tubuh kita. “Kita tidak memilih perubahanperubahan ini, semua terjadi begitu saja,” kata profesor psikologi di Jurusan Psikiatri di Universitas California Medical School, AS itu. Contoh, ekspresi kesedihan Banyak kondisi yang bisa memicunya. Penolakan kawan atau kekasih, kehilangan harga diri, kehilangan kehormatan, atau kehilangan orang yang dicintai. Banyak kata pula untuk melukiskan perasaan ini; kecewa, patah hati, haru biru, depresi, kecil hati, putus asa, bersedih hati, tidak berdaya, atau penuh penderitaan. Lalu, bagaimana dengan ekspresinya? Kesedihan atau penderitaan yang amat kuat bisa menampilkan keseluruhan wajahnya. Satu tanda paling kuat dan dapat diandalkan, adalah terangkatnya sudut dalam alis mata. Bahkan, kalau kita berusaha menyembunyikannya sekalipun, alis mata dengan posisi miring akan membocorkan kesedihan itu.

Bibir juga bisa memberikan sinyal kesedihan. Yakni bibir yang tertarik secara horizontal dan bibir bagian bawah terdorong naik. Intensitas kesedihan akan bertambah jika bibir bagian bawah bergetar dan mulutnya terbuka lebar disertai dagu yang terangkat. Lalu, bagaimana ketika tanda emosi kesedihan datangnya begitu halus? Tandanya adalah pelupuk mata bagian atas yang melemah. Kesedihan halus juga menyebabkan perubahan pada bibir yang sedikit mendapatkan dorongan ke bawah pada sudut bibir. “Jika itu muncul selama percakapan, mungkin itu merupakan permulaan kesedihan. Atau sebuah tanda kesedihan yang terkontrol,” tulis Ekman. Akan tetapi satu hal yang perlu diingat, ekspresi-ekspresi emosional tidak pernah bisa menjelaskan soal sumbernya. Apalagi seseorang bisa mengalami perasaan tertentu lantaran berbagai alasan. Jadi jangan beranggapan kita bisa tahu penyebabnya begitu saja. Ekspresi lain yang mudah dikenali adalah merendahkan atau merasa muak. Kita bisa melihatnya dari wajah dengan bibir yang dikencangkan dan agak terangkat. “Sinyalnya bisa dilihat dari garis bibir menutup dan menyerong ke samping,” jelas Monica. Tanda menghina atau merendahkan juga bisa ditunjukkan dengan pelupuk mata bagian atas yang agak terangkat. Tanda lain, berupa kontraksi halus pada otot yang mengerutkan hidung dan mempersempit mata.

Baca Juga  Teknik Pernafasan Saat Angkat Beban

Selingkuh hingga menangkap pencuri

Memang tak mudah untuk mendeteksi ekspresi wajah seseorang. Namun, ketika kita bisa memahami emosi seseorang, peluang menjalin komunikasi dan relasi apapun secara harmonis dan positif, jadi terbuka lebar. Kita tak akan salah ucap dan bertindak ketika berhasil menerjemahkan emosi, perasaan, dan keiginan orang lain melalui ekspresi garis-garis wajahnya. Sebab kita akan tahu, bagaimana harus bertindak. Monica pernah mendapat seorang klien yang curiga pada suaminya. Klien itu kemudian bersama suaminya mendatangi klinik tempat konsultasi Monica di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan. Namun si suami tidak tahu sedang berhadapan dengan ahli mikro ekspresi. Dikiranya, Monica hanya life coach biasa. Proses konseling dijalankan bergantian. Pertama, sang istri yang mengeluarkan unek-unek dan kecurigaannya terhadap suami. Berikutnya, sang suami. Nah, saat itulah Monica mendeteksi adanya potensi kebohongan dari ekspresi suami. “Aku pancing ini ‘bocor’ sini, dari beberapa pertanyaan ‘bocor’ sanasini,” kata penulis buku Incredible Me : Change Yourself before You Change Other itu.

Dari situlah Monica mendapatkan “diagnosis” tentang si suami. Singkat cerita, klien sampai harus menyewa detektif swasta untuk membuntuti suaminya. Hasilnya, si suami tertangkap tangan berselingkuh. Beruntung, meski perkawinannya terguncang, rumah tangga itu bisa diselamatkan. Dengan keahliannya, Monica juga sering membantu memecahkan kasus-kasus di berbagai perusahaan. Misal, ia pernah dimintai bantuan untuk mengungkap misteri hilangnya uang ratusan juta di sebuah perusahaan. Sebelumnya, tim investigator menemui jalan buntu. Orang yang dicuigai tetap berkilah kalau dirinya tak ada sangkut pautnya dengan peristiwa itu. “Saya hanya dibelakang tim melihat yang terjadi dengan ekspresi dia,” katanya. Ketika tim investigator menayai perihal brankas, terdapat perubahan ekpresi pada raut wajah karyawan itu. Monica kemudian meminta tim untuk terus-menerus membahas soal brankas. Ujungujungnya, si karyawan mengakui perbuatannya ketika dicecar sanasini. Sayangnya, nasi telah menjadi bubur, uang ratusan juta milik perusahaan tak bisa diselamatkan. Kata-kata mungkin bisa berdusta, tapi ekspresi Anda mengungkap segalanya

Botox dan Psikopat Tidak Bisa Dideteksi

Meskipun emosi bersifat universal, tapi ada kalanya para ahli sulit mendeteksi emosi yang muncul pada orang yang melakukan suntik botox. Apa pasal? Ternyata tindakan medis itu dapat melumpuhkan otototot wajah, sehingga beberapa garisgaris (kerutan) alami pembentuk emosi menghilang. Selain botox, ekspresi orang dengan psychopathic brain (psikopat) juga sukar diartikan. Pembawaan mereka cenderung tenang. “Orang psychopathic brain itu tidak memiliki empati, jadi bawaannya datar saja,” kata Monica. Untungnya, para ahli mikro ekspresi juga bisa mendeteksi emosi seseorang melalui bahasa tubuh, nada suara, isi pesan yang diutarakan saat wawancara, hingga pemilihan katanya. Meski kekuatannya tak sehebat mikro ekspresi, tapi hal-hal tersebut amat membantu untuk menyingkap emosi yang disembunyikan seseorang.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.