Sejarah Emas dan Kenapa Emas Berharga

  • Whatsapp
[Total: 0    Average: 0/5]

Sejarah Emas dan Kenapa Emas Berharga

 

Dalam peradabannya, manusia selalu mencari pola-pola kehidupan agar dapat mengerti hubungan antara satu hal dengan hal lainnya. Dengan akal budinya pola-pola ini dipelajari menjadi pengetahuan yang dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi. Dengan pengetahuannya manusia mencoba mengerti alam semesta ini dan hubungan antara elemenelemennya. Estetika adalah ilmu yang mempelajari tentang keindahan. Mengapa suatu benda dapat dikatakan indah? Sementara benda lainnya dianggap kurang indah ataupun buruk? Dalam hal ilmu estetika, manusia telah lama mempelajari elemen-elemen yang menyebabkan suatu benda menjadi indah ataupun buruk. Salah satu yang dipelajari adalah proporsi.

Proporsi antar-elemen dalam benda dapat menyebabkan sebuah benda terlihat indah dan menawan hati ataupun sebaliknya. Dari proporsi mahluk hidup, bangunan arsitektur dan karya seni yang dianggap indah, ternyata didapati di dalamnya kesamaan perbandingan jarak antara elemenelemennya. Perbandingan inilah yang disebut rasio emas. Rasio emas terjadi jika jumlah panjang elemen a ditambah panjang elemen b dibagi elemen yang paling panjang (elemen a), akan sebanding dengan panjang elemen a dibagi elemen b. Perbandingan ini selalu mengacu ke angka: 1,618.

Baca Juga  Tips Bercocok Tanam di Lahan Sempit

Angka inilah yang disebut dengan Phi dalam matematika. Rasio ini diduga telah dipakai sejak pembangunan kuil Parthenon di Yunani ataupun Piramid di Mesir dalam menentukan proporsi elemen bangunannya. Tahun 1509 Luca Pacioli seorang biarawan Italia menulis rasio ini dalam sebuah buku sebuah buku berjudul De Divina Proportione (Proporsi Ilahi). Kemudian Leonardo Da Vinci, seorang seniman besar Italia sahabatnya, menggambarkan proporsi ini dalam lukisan proporsi tubuh manusia yang sangat terkenal. Sejak itulah dipercaya bahwa keindahan lukisan-lukisan Da Vinci didasarkan pada pemakaian rasio ini. Lukisan terkenalnya seperti Monalisa, The Last Supper, hingga lukisan gigantiknya di atap kapel Sistine dapat kita ditemui perbandingan rasio emas di dalamnya.

Seniman, arsitektur, dan desainer hebat lainnya juga banyak yang menggunakan rasio ini dalam karya-karyanya. Seniman Seurat, Dali, Arsitekt Le Corbusier, hingga logo komputer Apple dipercaya menggunakan proporsi ini. Bahkan Dr. Stephen Marquardt seorang ahli bedah mulut dan maksilofasial menemukan dalam studinya bahwa terdapat hubungan antara persepsi kecantikan orang dewasa dengan rasio emas. Persepsi ini anehnya berlaku secara universal di berbagai ras, gender, bahkan lintas jaman.

Baca Juga  Pengaruh Suasana Hati Terhadap Produktifitas Pekerjaan

Beliau bahkan mematenkan model proporsinya sebagai acuan proporsi wajah ideal dalam merekonstruksi wajah seseorang. Akhirnya banyak orang menganggap rasio ini sebagai rasio yang sakral dan paling indah dibanding dengan rasio lainnya. Rasio ini ibarat rasio yang diwahyukan dari surga bagi manusia jika ingin mendapatkan keindahan yang abadi dan paling ideal. Apakah benar demikian? Ternyata banyak juga pihak yang menyanggahnya. Keith Devlin, profesor matematika dari Universitas Stanford pernah melakukan studi terhadap ratusan mahasiswa psikologis untuk memilih proporsi persegi empat yang paling favorit menurut mereka.

Dan didapati hasilnya sangatlah random dan tidak melulu pada rasio emas. Dalam studi lainnya di Haas School of Business Berkeley, ditemukan proporsi ideal yang dianggap favorit bagi sebuah persegi empat adalah di dalam rasio 1.414 dan 1.732. Meskipun mendekati rasio emas, rasio emas yang presisi malahan tidak banyak dipilih sebagai proporsi favorit. Jelaslah meskipun ada tendensi persepsi umum menganggap proporsi rasio emas akan menciptakan estetika seni dan desain, tapi tidak dalam sebuah kepastian absolut.

Baca Juga  Apa Perbedaan Pemimpin dengan BOS

Di sinilah terdapat keterpisahan antara bidang matematika dan estetika. Estetika seni dan desain dipengaruhi banyak hal, misalnya kebiasaan, budaya, pola pikir, pendidikan, psikologis, fi siologis, perspektif dan sebagainya. Rasio emas dapat menjadi alat dalam melihat dan menilai seni dan desain tapi tidak dapat dijadikan alat dalam mengukur keabsahan estetika sebuah karya. Rasio emas akan selalu ada di antara kita di antara mitos dan fakta tentang sebuah keindahan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.