Tempat Ngopi di Jogja Terbaik dan Paling Banyak Pilihan Kopinya

  • Whatsapp

Tempat Ngopi di Jogja Terbaik 

Klinik Kopi
Jl. Gejayan, Yogyakarta, Telp 0813 9278 4240

Klinik yang satu ini tak berhubungan dengan pengobatan. Penampilannya sepintas justru mirip kafe karena klinik ini memang khusus meracik minuman kopi. Setiap pengunjung bisa menyeruput segelas kopi hangat dengan nikmat. Namun uniknya, semua pengunjung duduk lesehan di lantai kayu, dan bebas mengambil tempat bersantai di mana saja sambil selonjoran. Sebuah meja panjang terhampar dengan puluhan stoples berisi biji kopi di atasnya, lalu sebuah alat espresso, teko, serta sebuah kompor. Pepeng, sang owner duduk di balik meja ini sambil menyeduh puluhan gelas kopi setiap malam bagi para penggemarnya. Klinik yang terletak di tengah hutan jati ini khusus didirikan pria bernama asli Firmansyah (33) ini dengan konsep minimalis. Tak lebih dari 7 kursi lipat yang disediakan. Sementara sisa ruangan di bagian lainnya dibiarkan melompong tanpa meja. Meski tampak sederhana, nama Klinik Kopi ternyata sudah mendunia. Di tempat inilah Pepeng menerima ratusan tamu asing dari berbagai negara, di antaranya Belanda, Amerika, Estonia, Polandia, Malaysia, hingga Australia. Para turis, hingga ilmuwan, dari berbagai institusi pendidikan di dunia bahkan rela datang ke sini untuk mencicipi kopi seduhan Pepeng. Banyak orang menyebut Pepeng sebagai seorang story teller bagi berbagai jenis kopi yang tumbuh di Indonesia.

Sambil memperkenalkan asal kopi atau single of origin setiap biji kopi, Pepeng menceritakan pula pengalamannya saat berinteraksi dengan para petani kopi-kopi. Kopi yang disuguhkan Pepeng merupakan biji kopi terbaik yang dihasilkan para petani kopi yang ada di Indonesia. Untuk mendapatkan biji kopi terbaik, Pepeng rela keluar masuk hutan untuk berbagi ilmu bersama para petani kopi. Mulai dari cara menanam, memetik, hingga menyeduhnya agar setiap petani mengenali nilai sekaligus kualitas dan rasa kopi yang dihasilkannya. Pepeng selalu membawa foto berisi deretan gambar biji kopi saat hijau hingga sudah melalui proses roasting. Melalui gambar yang dibawanya, Pepeng memperkenalkan setiap jenis biji kopi berdasarkan ketinggian tanah, suhu udara dan jenisnya. “Jadi para petani bisa mengenali dan menghasilkan biji kopi dalam kondisi terbaik,” cetusnya. Ia juga berbagi pengetahuan tentang cara memetik yang benar saat panen. Selama ini, umumnya petani memanen kopi dengan cara memetik biji kopi sekaligus batangnya. Padahal, menurut Pepeng, cara yang benar adalah memetik biji satu per satu sehingga para petani tak memerlukan waktu satu tahun untuk memanennya kembali. “Hal ini memungkinkan karena batangnya tidak ikut terpotong,” imbuhnya lagi.

Baca Juga  Makanan untuk Ibu Menyusui Agar Bayi Cerdas

Pepeng juga mengajarkan agar hanya biji kopi berwarna merah yang dipetik. Itu pun harus dengan cara dipuntir agar tak merusak batangnya sehingga dalam 3 bulan bunganya sudah tumbuh kembali. “Edukasi ini saya lakukan dari kebun ke kebun langsung mulai dari Sumatera hingga Wamena,” kisah Pepeng. Saat melakukan edukasi ini Pepeng terpaksa menutup Klinik Kopi sementara waktu sambil menunggu ia kembali dengan membawa biji baru untuk diperkenalkan pada masyarakat. Selain edukasi tentang menanam dan memanen, biasanya Pepeng menyeduhkan pula kopi yang sudah di-roasting menggunakan alat espresso manual yang selalu dibawanya. Di rumah para petani inilah Pepeng biasanya mendemokan keahliannya sehingga para petani bisa langsung mencicipi hasilnya. “Jadi mereka bisa ikut menikmati kelezatan kopi yang mereka tanam dengan cara yang benar sehingga tak sekedar menanam, mereka juga memahami nilainya,” imbuhnya. Sebuah tas berisi kompor portable juga selalu menemani Pepeng kala berkeliling Indonesia bertemu petani kopi. Atas aksinya ini, Pepeng bahkan dianugerahkan gelar Sutan Ameh oleh para petani kopi di Bukittinggi. Beberapa jenis kopi yang bisa Anda temukan di Klinik Kopi ini antara lain kopi dieng, Nagari Lasi, Kayumas Situbondo, Bajawa, Wamena, Kintamani, Padang payung, hingga Ciwidey. Totalnya terdapat 60 jenis kopi lokal dengan 21 macam display yang dipertontonkan pada pengunjung. Semua kopi sudah dalam keadaan roasted yang dilakukan sendiri oleh Pepeng, sesuai jenis dan sifat masing-masing biji kopi.

Baca Juga  Daftar Makanan Sehat untuk Jantung

Jangan kaget jika di Klinik Kopi Pepeng tak menyediakan gula, apalagi krim untuk dicampur ke dalam kopi. Di sini hanya tersaji kopi hitam dalam cangkir mungil. Saat diseruput, Anda akan menemukan rasa kopi yang sesunguhnya, serta memahami perbedaan di antara kopi satu dengan lainnya secara nyata. Aroma, warna, dan rasa akan terasa nyata dalam indera pencecap kita seolah memberi jawaban atas kekayaan hasil bumi Indonesia yang begitu luas dan beragam. “Untuk mengenal kualitas biji kopi memang harus dinikmati dengan cara yang benar, yaitu diminum tanpa tambahan apapun,” jelasnya. Setiap cangkir kopi yang diseduh tidak dijual seperti di kafe. Tak ada meja kasir, bon nota, apalagi keharusan membayar. Pepeng hanya menyediakan sebuah kaleng bekas alat kopi. Di dalam kaleng inilah para pengunjung dibiarkan menghitung sendiri berapa cangkir kopi yang dicicipinya dengan patokan harga antara Rp 10 ribu – Rp 15 ribu per cangkir. Pepeng terlalu asyik menyeduh dan bercerita pada para pengunjung sehingga ia kerap meminta mereka mengambil kembaliannya sendiri jika uangnya berlebih. Klinik kopi didirikan Pepeng bukan tanpa alasan. Sebelumnya Pepeng dikenal sebagai pelaku “Kopi Panggil” yang kerap menyeduh kopi dengan cara dipanggil berkeliling kota dari sebuah acara dari rumah ke rumah para pengundangnya. Seperti ke Jakarta, Surabaya, Bandung hingga Bali.

Baca Juga  Rekomendasi Resto Rooftop Hotel di Jakarta

Pepeng membawa kemana-mana biji kopi racikannya ke berbagai kota. Ia menyadari, selama ini kopi dinikmati dengan cara yang keliru. Menurutnya, kopi Indonesia memiliki ragam melimpah, dan rasa yang khas sesuai iklim dan ketinggian tanah dimana kopi ditanam. “Kita sebenarnya banyak terhasut campuran kopi, gula, krim, atau campuran lainnya dalam kopi sachet sehingga ragam biji kopi ini makin tak dikenal masyarakat,” ujarnya. Itulah mengapa ia mendirikan Klinik Kopi untuk mengedukasi seputar pengetahuan kopi lebih mendalam. Kepeduliannya pada kopi Indonesia membuat lulusan Teknik Penerbangan Universitas Nurtanio ini hengkang dari pekerjaannya 3 tahun lalu dan memutuskan total terjun mendidik petani maupun masyarakat mengenal kekayaan kopi lokal. Pepeng akan dengan murah hati memberikan informasi mendapatkan biji kopi tertentu jika ingin membelinya sendiri. Klinik Kopi dibuka untuk umum mulai pukul 16.00 – 23.00 setiap hari, kecuali Minggu. Sementara di pagi hari, Pepeng lebih banyak menerima kunjungan berbagai kelompok maupun institusi dari dalam dan luar negeri yang ingin belajar mengenal kopi Indonesia secara benar dengan perjanjian sebelumnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.