Cara Pengambilan dan Pengolahan Minyak Bumi

  • Whatsapp
[Total: 0    Average: 0/5]

Cara Pengambilan dan Pengolahan Minyak Bumi

Catatan Keseharian Penambang Emas Hitam

Mereka memompa, memilah, hingga menyuling minyak mentah. Semua proses dilakukan manual, hanya mesin dari truk tua yang terdengar menderu seiring dengan tumpahnya cairan coklat, minyak mentah dan air. Di sini minyak ditambang seperti layaknya menggali air sumur. Desa itu sudah tercium aromanya sejak 45km dari pusat kota Bojonegoro, Jawa Timur. Aroma kepekatan antara nikmat dan kelindan narasinya. Minyak selalu menjadi cairan seksi di seluruh dunia. Angka 1.200 barel atau ada yang menyebut 1.700 barel minyak mentah per hari dihasilkan di Wonocolo. Cairan yang konon bisa memengaruhi politik dunia ini dihasilkan oleh para penambang tradisional. Semua serba manual, menggunakan kekuatan tangan dari 2.500 orang penambang tradisional di Desa Wonocolo dan Dangilo. Salah satunya, Kusno.

Siang itu, ketika kami menemui Kusno, ia tengah menunggu solar yang mengalir dari pipa penyulingan sederhana di sebuah gubug, tak jauh dari sumur minyaknya. Cairan berwarna bening kehijauan itu masih berasap. Ia bekerja mulai subuh dan baru akan pulang sekitar pukul 17.00. Pada malam hari, tambang ini istirahat. Sumur itu dimiliki oleh 50 orang yang beroperasi sejak 2013. Tak jauh dari sumur Kusno, terdapat sumur zaman Belanda yang tak menghasilkan minyak lagi. “Kami tidak punya alat canggih. Kalau ada sumur yang produktif, biasanya tak jauh dari sumur itu juga ada minyak. Kami tinggal menggali tak jauh dari sumur itu,” kata Kusno. Sistem macam itulah yang menyebabkan sumur-sumur minyak di Wonocolo terus bertambah. Menurut data PT Pertamina Aset 4 Eksplorasi dan Produksi, sumur tua (buatan Belanda dan yang dibuat sebelum 1970) berjumlah 224 sumur.

Kini total sumur yang ada sejumlah 720 sumur. Jumlah ini terus berubah seiring dengan pertambahan sumur oleh penduduk maupun investor. “Kami tidak bisa melarang orang lain menggali sumur di dekat sini,” keluh Kusno. Artinya jika ada sumur lain yang digali, maka minyak mentah yang keluar akan lebih sedikit atau lebih cepat habis. Tetapi tidak ada yang bisa melarang. Yang bisa dilakukan, kadang dengan menghalangi secara halus, yaitu mendirikan gubug atau sarana agar tanahnya tak digali. Serba manual Laki-laki asli kelahiran Wonocolo itu dibesarkan oleh aroma minyak. Dari kecil, keluarganya hidup dari tambang tradisional. Kusno sempat ingin lepas dari lingkaran tambang itu. “Kalau menurut orang Jawa, kerja di tambang itu kan panas,” katanya. “Panas” maksud Kusno, uangnya tak berkah. Beda dengan menjadi petani yang dirasa lebih dingin. Tahun 2010, Kusno merantau ke Riau untuk menjadi buruh perkebunan. Kemudian dilanjutkan ke Malaysia menjadi pekerja di kebun bunga. Tetapi minyak mentah di kampung rupanya memanggilnya kembali. “Setelah dipikir-pikir, di negeri sendiri lebih tenteram,” kenangnya.

Baca Juga  Membuat Hiasan Dinding dari Barang Bekas

Ia hanya ingin menghidupi keluarga kecilnya, menyekolahkan kedua anaknya, makanya ia kembali bekerja di tambang. Tahun 2013, bersama ke-50 kawannya, Kusno membangun sumur sendiri. Uang hasil bekerja di kebun tetangga digunakan untuk modal menggali sumur. Satu orang berinvestasi Rp15 juta. Untuk membuat satu sumur dibutuhkan dana sekitar Rp1,5 miliar. Investasi Kusno dan temanteman itu belum termasuk ongkos tenaga kerja, bahan kayu jati yang bisa didapat dengan tidak membeli, dan ongkos-ongkos produksi lain yang tidak masuk dalam perhitungan.

Pengakuan Kusno, tak sampai setahun, investasi bisa balik modal. Pada awal pengeboran, dalam sehari bisa dihasilkan 10 ribu liter minyak mentah. Hasil akan terus menurun ketika sumur semakin lama ditambang. Apalagi kalau ada sumur lain di dekatnya. Kini dalam hitungan Kusno, sumurnya kini menghasilkan 240 liter per hari. Minyak mentah itu kemudian dijual ke paguyuban. Awalnya, ada KUD yang didirikan untuk menampung hasil minyak mentah yang kemudian diolah oleh Pertamina. Namun rupanya KUD tak efektif, hingga lahirlah paguyuban. Sejak 16 Juni 2015, Paguyuban Wono Mulyo dan Wonocolo menjual hasil minyak mentah ke Pertamina seharga Rp 2.150 per liter.

Baca Juga  Baginilah Contoh Desain Kolam Renang untuk Rumah Sederhana dan Minimalis

Memang tak semua minyak mentah ini masuk ke Pertamina. Di Wonocolo ada pula penyulingan sederhana milik para penambang untuk menghasilkan solar. “Tergantung yang sedang laku apa, ya bisa solar, bisa bensin,” kata Kusno. Solar produksi lokal itu dijual hingga sampai Surabaya, Jombang, bahkan Madura. Hasil tambang tradisional ini menempuh jarak ratusan kilometer dari asalnya dengan rengkek, yaitu sepeda motor yang dimuati 5 jerigen. Semua ini dilakukan demi mendapat hasil lebih. Karena itulah di tempat ini kita akan menyaksikan juga rengkek yang lalu lalang seperti membelah tanah tambang. Kesigapan mereka dalam mengendarai sepeda motor dengan beban yang berat patut diacungi jempol.

Deru sepeda motor rengkek seolah bersaing dengan mesin diesel yang mengeram untuk menggerakkan pompa minyak. Mesin ini berasal dari truk tua yang dikendalikan seorang supir, sekaligus menjaga agar mesinnya tetap hidup. Mesin truk tua ini menggerakkan pompa untuk menghujam ke kedalaman sumur, antara 330- 400 m ke dalam lapisan minyak. Kemudian seperti sistem timba air yang berbentuk kapsul, maka minyak terangkat melalui kapsul itu. Satu orang bertugas menjaga ujung kapsul untuk berada tepat di landasan, lalu tumpahlah minyak yang bercampur dengan air, mengalir ke bak penampungan. Di bak penampungan, ada yang bertugas mengambil minyak yang mengambang di permukaan dengan sekop. Menampungnya ke dalam ember, lantas memasukkan ke dalam bul, penampungan berbentuk persegi berkapasitas 1.000 liter. Semua dilakukan dengan tangan, satu per satu. Mungkin Wonocolo merupakan satu-satunya tambang di dunia yang dikelola sekelompok masyarakat dengan cara manual. Para pekerja di tempat ini kebanyakan warga setempat.

Selain Kusno, ada Misran. Lakilaki kelahiran 1931 ini sudah menambang selama setidaknya 65 tahun. Hidupnya memang di tambang. Kemampunnya pun hanya menambang minyak. Bila pada siang hari sumurnya sudah mulai mengering, ia pun hanya bisa menunggu. “Tadi mulai jam 8 pagi. Ini sudah habis, besok lagi,” katanya sembari meletakkan alat pompanya untuk beranjak. Bergabung dengan penambang lain yang tengah menyalakan rokok untuk bersantai. Tindakan semacam ini jangan harap bisa dilakukan di tambang dengan tingkat keamanan tinggi. Menjadi wisata heritage Tak bisa dipungkiri, Wonocolo adalah ladang rezeki sekaligus ladang pergulatan berbagai kepentingan.

Baca Juga  Pesona Wisata di Way Kanan

Isu tentang tanggapan tak ramah di kalangan para penambang dalam menyambut orang luar, termasuk wartawan untuk masuk ke lokasi tambang santer terdengar. Akan tetapi perlahan-lahan, PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Aset 4 mendekati Wonocolo untuk bersinergi. Selain melalui pendekatan pembelian minyak mentah, juga ada wacana untuk menjadikan heritage. Ada dua desa yang menjadi sentra penambangan minyak tradisional yaitu Desa Wonocolo dan Desa Dangilo, keduanya di Kecamatan Kadewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Sedangkan peta keberadaan sumur tua, sebagaimana disampaikan Budi Agustyono, Sekretaris SKK Migas, berada di beberapa desa lainnya yaitu Wonosari, Katileng, Sukorejo, hingga Tanggir.

Pertambangan di Wonocolo ini dimulai pada 1893 ketika Adrian Stoop, pendiri Dordtsch Petroleum Maatchaappij (DPM) menemukannya. Perusahan Belanda tersebut awalnya mencari sumber air. Pada 1879 justru yang ditemukan ladang minyak. Sejak itu, tempat ini menjadi sumber minyak bagi pemerintah kolonial Belanda. Tahun 1950-an setelah Belanda meninggalkan Indonesia, satu per satu sumur ditemukan kembali. Masyarakat mulai menambang dan membuat sumur baru. Wacana untuk menetapkan Wonocolo sebagai heritage sudah dimulai beberapa tahun lalu. Diawali dengan berbagai pendekatan dari Pertamina. Seandainya telah menjadi tempat wisata, diharapkan penambangan akan lebih tertata dan masyakarat mendapatkan pendapatan tambahan. Sejauh ini, fasilitas yang sudah dibangun berupa infrastruktur fisik.

Salah satunya bangunan gedung museum yang nantinya akan diisi dengan informasi mengenai kisah Wonocolo. Selain itu, bekerjasama dengan komunitas Jeep di Wonocolo, wisatawan dapat berkeliling melintasi area tambang. Bagi Kusno, apapun bentuk pengelolaan nanti, yang penting bisa mendatangkan uang yang sebanding dengan ketika ia menambang. Sebab denyut nadi kehidupannya memang hanya satu, menambang.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.