Mewujudkan Masyarakat Inklusif Lewat Musik

  • Whatsapp
[Total: 0    Average: 0/5]

Mewujudkan Masyarakat Inklusif Lewat Musik

 

Khawatir menyaksikan bahkan menjadi korban rasisme dan intoleransi, tinggal di Kota Brighton, Inggris justru membuka mata saya tentang arti dari kepedulian terhadap sesama manusia. Penduduk kota ini kompak bahu-membahu mewujudkan masyarakat inklusif. Menjadikan Brighton kota yang ramah bagi setiap orang, termasuk penyandang learning disability dan autisme. Semenjak Britania Raya resmi keluar dari Uni Eropa, laporan kasus rasisme dan intoleransi terhadap warga pendatang dan orang asing di negara kesatuan tersebut kian meningkat. Tepat ketika berita mengenai kasus-kasus tersebut sedang hangat-hangatnya, saya mendapat kabar baik mengenai proses seleksi beasiswa yang saya ikuti.

Saya ternyata dinyatakan lolos dan berkesempatan melanjutkan pendidikan S2 di University of Sussex, yang letaknya di Kota Brighton, Inggris. Saat itu perasaan saya pun campur-aduk; senang, excited, sekaligus gugup, membayangkan apakah saya juga akan turut menyaksikan atau bahkan menjadi korban tindakan rasis dan intoleran ketika saya tinggal di sana kelak? Ternyata, kekhawatiran yang sudah meliputi benak saya sejak sebelum berangkat ke sana sama sekali tidak terbukti. Kota kecil yang tak jauh dari London ini dikenal sebagai kota eksentrik dan cukup populer sebagai tempat tujuan wisata musim panas karena pantai dan taman hiburannya. Tak hanya itu, Brighton juga dikenal sebagai kota yang ramah. Tak sulit untuk membuktikan predikat ini.

 

Di pekan pertama saya tinggal di kota ini, sapaan hangat dan senyuman ramah dari orang-orang yang saya temui di jalanan dan tempat-tempat umum menjadi makanan sehari-hari. Tak jarang juga saya temui pemandangan yang bisa dibilang cukup mengharukan, seperti kekompakan supir dan penumpang bus kota yang membantu pengguna kursi roda untuk naik ke bus, menempati posisi yang nyaman di dalam bus, dan turun dengan aman. Belum luntur ketakjuban saya terhadap kepedulian masyarakat Brighton, saya mendapati orangorang dengan learning disability dan autisme pun mendapat perhatian yang selayaknya.

Mereka – sebagaimana setiap individu di dalam masyarakat – diperjuangkan segala hak-haknya, termasuk hak untuk memiliki kehidupan sosial yang sehat. Fakta ini saya dapati ketika saya iseng mencari kabar di internet tentang sebuah band beraliran punk yang sempat saya gandrungi lantaran film dokumenter tentangnya yang dirilis pada 2008 silam; Heavy Load. Band yang saya tahu berdomisili di Brighton ini separuh personelnya menyandang learning disability. Lewat film dokumenter karya Jerry Rothwell tersebut, saya menyaksikan bagaimana musik dapat menjadi sarana pemberdayaan bagi mereka penyandang learning disability dan autisme. Karenanya, saya penasaran sekali dengan band tersebut.

Baca Juga  Rekomendasi Hotel Keluarga di Kuta Bali

Semula niat saya adalah mencari tahu jadwal band tersebut tampil di Brighton, karena ingin menyaksikan penampilannya langsung. Sayangnya, band tersebut ternyata sudah bubar sejak 2012. Akan tetapi rupanya, salah satu pentolan band tersebut meneruskan semangat advokasi hak orangorang dengan learning disability dan autisme melalui sebuah yayasan Stay Up Late yang didirikannya. Yayasan ini menjadi salah satu motor penggerak kampanye kesetaraan hak penyandang learning disability dan autisme di Brighton. Bersenang-senang adalah hak semua orang Karena keterbatasan dalam melakukan berbagai hal di kehidupan sehari-hari, orang dengan learning disability dan autisme membutuhkan pendampingan dari orang lain.

Di Inggris, sangat lazim bagi orang dengan learning disability dan autisme untuk didampingi seorang social worker alias pekerja sosial. Dengan pendampingan, orang dengan learning disability dan autisme dapat sebisa mungkin menjalani kehidupan normal. Bahkan didukung untuk melakukan hal-hal yang sifatnya hobi atau hiburan dan juga beragam kegiatan sosial. Sayangnya, para social worker jam kerjanya terbatas, yakni hanya sampai pukul 22.00. Oleh karena itu, terkadang orang dengan learning disability dan autisme yang gemar akan hiburan malam seperti menonton live music di café, pub, atau bar tidak dapat melakukan hobinya.

Kenyataan inilah yang menjadi awal keresahan Paul Richards, eks-personel Heavy Load yang kemudian mendirikan Stay Up Late. Di masa kejayaan Heavy Load, kerap kali ia menyaksikan penonton dengan learning disability dan autism. Dan mereka terpaksa pulang dengan kecewa sebelum acara berakhir lantaran jam kerja pendampingnya sudah habis. Keadaan ini dirasa membatasi, padahal Paul Richards dan rekan rekannya percaya, bersenangsenang adalah hak setiap orang.

Sebelum menjadi yayasan resmi, pada 2012, Stay Up Late merupakan sebuah kampanye seruan kepada masyarakat untuk peduli akan hak-hak orang dengan learning disability dan autisme. Dimulai pada 2006, kampanye ini dilaksanakan dalam berbagai kegiatan, di antaranya pagelaran musik oleh para musisi dan DJ dengan learning disability dan autisme. Selain itu pelatihan tentang learning disability dan autisme bagi para pekerja café, pub, bar, serta klub malam. Skema pertemanan Gig Buddies Salah satu program utama Stay Up Late adalah Gig Buddies, sebuah skema pertemanan yang memasangkan penyandang learning disability atau autisme dengan relawan. Pasangan ini akan punya jadwal rutin, setidaknya sebulan sekali, untuk menyambangi tempat hiburan atau pertunjukan musik sesuai minat keduanya.

Baca Juga  Mendidik Anak itu Penting, Namun Jangan Sampai Jadi Seperti Ini

Di luar jadwal rutin tersebut, pasangan ini boleh-boleh saja pergi bersama untuk sekadar ngobrol sambil atau ngopi. Meski terdengar sederhana, dampaknya sangat besar baik bagi orang dengan learning disability dan autisme maupun relawan. Salah satu pertimbangan Paul Richards dan tim Stay Up Late dalam memasangkan adalah kesamaan minat dan hobi. Para relawan ini juga diseleksi dan diberi berbagai pelatihan untuk melakukan pendampingan. Stuart McKenzie, salah satu relawan Gig Buddies yang sempat saya temui bercerita, dirinya sudah tiga tahun berkecimpung di program ini. Pasangannya, Les, merupakan pencinta musik dan penggemar berat Elvis Presley seperti dirinya. “Saya sudah gemar menonton pertunjukan musik sejak remaja. Ketika saya tahu ada program Gig Buddies ini, saya tanpa ragu-ragu langsung bersedia terlibat. Bahagia rasanya bisa melakukan hal yang saya sukai sembari membawa manfaat untuk orang lain,”ujar Stuart McKenzie.

Sejak menjadi sukarelawan, Stuart mengaku belajar banyak hal baru. “Menjadi orang yang lebih terbuka, lebih open-minded,” tuturnya. Sebelum mengenal Les, ia tidak pernah terpikir untuk punya teman nongkrong, bercanda, dan pergi ke pertunjukan musik. Stuart menepis anggapan bahwa dirinya saja yang banyak membantu. Karena Les juga sebaliknya. “Ketika saya sedang jatuh, dia ada untuk saya sebagaimana teman yang baik,” papar Stuart. Saya pribadi juga tergugah dengan ide ini. Di hampir seluruh kota di Indonesia, pertunjukan musik bukan sesuatu yang asing, baik itu musik tradisional maupun modern dengan beragam genre. Namun, rasanya belum ada yang bersuara penyandang learning disability atau autisme punya keterbatasan mengakses acara-acara tersebut. Jangankan masalah pendampingan, akses ke tempat pertunjukan pun terkadang tidak ada. Semoga kelak, menjadi perhatian baik bagi penyelenggara acara atau promotor, bahwa semua orang seharusnya mempunyai kesempatan yang sama untuk menikmati karya musik.

Menggugah Lewat Karya Sejak Stay Up Late masih berupa kampanye dan belum diresmikan menjadi yayasan, band Heavy Load merilis karya-karya yang khusus mendukung advokasi hak orangorang dengan learning disability dan autisme. Salah satunya, lagu dari band The Ting Tings, berjudul “That’s Not My Name” yang digubah ulang oleh Heavy Load. Lagu ini diganti liriknya untuk mempromosikan paham anti-diskriminasi dan perlawanan terhadap stigma yang melekat pada orang-orang dengan kebutuhan khusus. Pengaruh dari sang pendiri terhadap keberlangsungan program- program di yayasan ini memang sangat kuat. Kecintaan terhadap musik ditularkan kepada orang-orang yang terlibat di dalamnya sehingga tak hanya mendukung mereka yang gemar menyambangi pertunjukan musik tapi juga untuk berkarya.

Baca Juga  Rasa Es Krim Magnum Paling Enak

Beberapa band pun terbentuk atas inisiatif para penyandang learning disability dan autisme serta sukarelawan yang terlibat di yayasan ini. Salah satunya The Revs, band beranggotakan enam orang yang telah meluncurkan album pertamanya pada 2014. Andrew, sang vokalis yang juga menyandang learning disability bercerita, lagulagunya selalu memuat isu-isu sosial. “Misalnya Don’t Cut Us Out mengandung kritik untuk pemerintah terkait pemotongan anggaran pelayanan publik dan berdampak pada kami,” paparnya. Paul Richards, pendiri yayasan Stay Up Late mengungkapkan, kegiatan bermusik ini juga penting sebagai ajang aktualisasi diri para penyandang learning disability dan autisme. Masyarakat juga diharapkan dapat tergugah dengan karya-karya mereka. “Selain itu, juga untuk menunjukan pada masyarakat bahwa para penyandang learning disability atau autisme itu sama saja dengan kita semua. Semoga masyarakat tidak lagi meyudutkan dan mendiskriminasikannya,” paparnya.

 

Gatwick, Bandara Ramah Penyandang Autis Pertama di Inggris

Karena tidak ada bandara internasional dengan penerbangan-penerbangan mancanegara di Brighton, untuk mencapai kota ini atau bepergian dari sini ke luar negeri, bandara Gatwick-lah yang umumya digunakan. Jaraknya tak jauh, dapat dicapai hanya dengan berkendara selama sekitar 40 menit atau naik kereta selama satu jam dari pusat kota Brighton. Gatwick pada akhir 2016 dinobatkan secara resmi menjadi bandara pertama di Inggris yang ramah terhadap penyandang autisme. Di laman website-nya tertulis, Gatwick paham betul bahwa berada di bandara yang ramai dan kadang dengan petunjuk yang kurang jelas sangat menyulitkan bagi penyandang autisme. Oleh karena itu, sebuah komitmen dibentuk untuk menjamin kemudahan bagi penyandang autisme. Tak hanya aksesibilitas yang terjamin bagi penyandang autisme, seluruh staf bandara sudah mendapat pendidikan dan pelatihan khusus mengenai autisme. Ada pula duta autisme, Maria Cook, ibu dari anak penyandang autism sekaligus kepala dari lembaga Autism Support Crawley. Lembaga tersebut membantu pihak bandara Gatwick untuk memahami kebutuhan dan hak penyandang autisme untuk kemudian diterapkan pada pelayanan bandara.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.