Pesona Wisata di Way Kanan

  • Whatsapp
[Total: 0    Average: 0/5]

Pesona Wisata di Way Kanan

Way Kanan merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Lampung yang beribukota Blambangan Umpu. Keelokan alam berupa air terjun adalah jualan utama dari kabupaten yang berjuluk Bumi Khamik Khagom ini. Namun sebelumnya, sebuah kampung yang berusia empat abad, layak untuk ditengok. Sebenarnya terdapat tak kurang dari empat puluh lima air terjun di Way Kanan. Salah satunya, air terjun Puteri Malu yang kemegahannya merangsang para petualang seperti saya untuk datang.

Daya tarik lain yang tak kalah menggoda adalah pemandian air panas, arung jeram, wisata budaya serta rumah tradisional berumur ratusan tahun. Semua itu dipadu dengan pemandangan setempat berupa sungai, sawah, perkebunan kopi, dan pematang. Sesi terakhir perjalanan darat yang saya tempuh dari Kota Bandar Lampung menuju Way Kanan menghabiskan waktu 4,5 jam. Tidak ada hambatan berarti karena mobil melaju melalui jalan lintas Sumatera yang mulus dan tidak ramai. Pemandangan hanya didominasi perkebunan, perkampungan penduduk, atau pasar di kota-kota kecamatan. Hari sudah sore ketika perjalanan saya berakhir di Kampung Gedung Batin, sebuah kampung yang berjarak 22?km dari ibukota kabupaten. Kami bemalam di kampung ini sebelum melakukan perjalanan penuh tantangan menuju Air Terjun Puteri Malu, keesokan harinya. Rumah adat empat abad Kampung Gedung Batin merupakan kampung wisata dengan sejumlah bangunan dan struktur peninggalan masa purbakala. Sebenarnya, kampung dengan rumah adat adalah hal yang biasa.

Akan tetapi di kampung tua Gedung Batin terdapat deretan rumah adat yang sudah bertahan hingga 400 tahun. Rumah-rumah panggung di kampung ini telah didiami beberapa generasi keluarga, sampai saat ini. Rumah-rumah di kampung belum ada yang direnovasi, termasuk tiang-tiangnya. Kekunoan rumah terlihat antara lain dari engsel pintu dan jendelanya yang masih asli, buatan Inggris atau Tiongkok. Rumah-rumah ini begitu kokoh karena memakai kayu Mampang. Konon, semakin lama ditancapkan ke tanah, kayunya akan semakin kuat. Itu sebabnya sampai saat ini bangunan rumah belum ada yang goyang. Meski sebagian kayu rumah sudah tampak beronggarongga karena rayap, namun masih terlihat kokoh.

Baca Juga  Alternatif Waralaba Selain Indomaret Miniso Indonesia

Di rumah salah satu warga saya menjumpai barang-barang antik seperti guci, nampan, atau dispenser zaman Belanda. Semua komplet, termasuk perabotan tua seperti lemari, meja, kursi, cermin, dan bufet. Semuanya dipastikan sudah berusia ratusan tahun. Setiap kali saya menapaki satu persatu anak tangga di rumah warga yang saya inapi, ada rasa yang membuat saya seakan tengah menjelajah waktu ke masa lampau. Keberadaan meriam Belanda seberat 3 ton dan masih utuh di salah satu rumah, menjadi saksi bisu adanya kehidupan di Kampung Gedung Batin di masa lalu.Makam-makam orang dulu pun masih ada. Masyarakat di kampung ini memang masih patuh pada aturan dan adat istiadat. Mereka teguh mempertahankan kampungnya sebagai tanah kelahiran, dan berharap supaya bisa lestari. Kampung Gedung Batin memiliki suasana asri dengan adanya tumbuh-tumbuhan di halaman dan kebun-kebun warga di sekitar.

Malam hari, kampung ini terasa sangat tenang. Setenang pagi kala para orang tua menyeruput kopi sambil melihat anak-anak mereka yang masih terlelap. Nama Gedung Batin yang terdengar asing justru menjadi sisi misterius yang membuat penasaran. Agaknya, ada banyak cerita penting bersejarah yang belum terungkap di sini. Namun yang jelas, inilah salah satu aset berharga kebudayaan Lampung yang harus dijaga dan dilestarikan. Mutiara tersembunyi Sesuai rencana, esoknya perjalanan berlanjut ke air terjun Puteri Malu yang disebut-sebut sebagai mutiara tersembunyi di Way Kanan.

Baca Juga  Mendidik Anak itu Penting, Namun Jangan Sampai Jadi Seperti Ini

Letaknya di desa Jukuh Batu, Kecamatan Banjit. Suatu kecamatan yang dihuni beragam suku di antaranya Lampung, Semendo, Ogan, Padang, Sunda, Jawa, dan Bali. Sebagian besar masyarakatnya tinggal di daerah pegunungan dengan bertani kopi secara tradisional. Dari Kampung Gedung Batin yang diinapi, kami bermobil menuju Desa Jukuh Batu, melewati jalan Baradatu yang lancar. Baru di Desa Jukuh Batu kami menyewa ojek motor trail dengan tarif Rp150 ribu pulang dan pergi.

Pengemudinya andal dan sudah terlatih berkendara di medan berat melewati jalan setapak kecil berbatu, kadang berupa tanah merah basah dan berlumpur. Terhampar sepanjang 7 kilometer jalan mendaki dan menurun yang kami lalui adalah perbukitan hijau, perkebunan kopi, hamparan sawah, perkampungan, dan hutan berhalimun dengan pepohonan khas alam tropis. Perjalanan berakhir di sebuah turunan. Kami melanjutkan berjalan kaki sekitar 30 meter, lalu sampailah di Air Terjun Puteri Malu. Serentak semua memekik kegirangan saat melihat air yang terjun dari ketinggian sekitar 80 meter.

Belum terekspos Megah adalah pujian yang tepat untuk sajian alam berupa tebingtebing batu yang menjadi bahu tempat air jatuh. Bebatuan itu begitu gagah dalam balutan alam yang masih perawan dan suasana asri yang meliputi sekelilingnya. Air Terjun Puteri Malu memiliki tebing batu yang menjulang dengan lapisan-lapisannya. Setiap lapisan merupakan penanda waktu. Tempat ini sungguh mengintimidasi saya dengan skalanya, kaleidoskop warnanya, bentuk fisiknya, mengerdilkan segala hal dalam diri kecuali jiwa. Saya kehilangan kata untuk melukiskan keindahannya. Suatu hal yang tak mungkin saya hindari saat itu adalah menceburkan diri ke kolam air dalam lembah terindah di Way Kanan.

Baca Juga  Cara Diet dengan Lemon

Sekitar 100 meter dari Air Terjun Puteri Malu terdapat Air Terjun Batu Duduk. Tidak ada kolam di bawahnya. Air langsung mengalir ke arah lembah, melewati bebatuan. Suasana sekitar masih sangat alami, dikelilingi pepohonan dan semak belukar yang lebat. Rumputrumputnya terlihat hijau segar tumbuh menutupi permukaan dinding tebing yang berwarna keperakan. Saya tak henti mengagumi keindahan dua air terjun itu. Tempat ini benar-benar alami dan belum terekspos secara luas, sehingga belum dilengkapi sarana dan prasarana yang cukup memadai. Meski demikian, kini wilayah Kecamatan Banjit ramai dikunjungi pada akhir pekan. Pesona dua air terjun inilah yang membuat mereka datang.

Pengunjung yang datang tentu sadar bahwa aroma petualangan menuju tempat ini sangat kental. Berbadan sehat dan bermental kuat tentu suatu keharusan. Sebab perjalanan yang ditempuh tidak hanya dengan berjalan kaki, tapi juga naik ojek motor trail selama satu jam. Namun sekali lagi, disitulah letak pengalaman berkesannya, petualangan yang dijamin membekas dalam ingatan. Kini wisata air terjun kebanyakan dikelola oleh masyarakat kelompok sadar wisata setempat. Tumbuh menjadi ekowisata, menjadi tambahan penghasilan masyarakat sekitar.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.