Staf Residens Gedung Putih – Semangat Pengabdian Dua Ratus Persen

  • Whatsapp

Staf Residens Gedung Putih – Semangat Pengabdian Dua Ratus Persen

Ketika presiden AS ke-45, Donald J. Trump dilantik 20 Januari 2017, staf rumah tangga Gedung Putih (biasa disebut staf residens) mendapatkan bos baru. Meskipun Trump dikatakan presiden yang telah “membelah” AS, bagi mereka, presiden dan keluarganya selalu Bos Nomor Satu, tak peduli partainya. Ketika presiden AS ke-45, Donald J. Trump dilantik 20 Januari 2017, staf rumah tangga Gedung Putih (biasa disebut staf residens) mendapatkan bos baru. Meskipun Trump dikatakan presiden yang telah “membelah” AS, bagi mereka, presiden dan keluarganya selalu Bos Nomor Satu, tak peduli partainya. denganpresiden lama di State Dining Room.

Sering kali acara ini disertai linangan air mata. Presiden George H. W. Bush, yang dikenang sebagai orang tua yang baik dan disebut oleh staf residens “Old man Bush” sampai menangis tersedu-sedu ketika dikelilingi para staf yang akan ditinggalkannya. Bahkan Barbara Bush khusus berlari menyeberangi Red and Blue Rooms agar dapat memeluk semua butler satu per satu. Ronald Reagan sempat bercanda, “Setelah pergi dari sini, satu-satunya masalah adalah, besok pagi ketika saya bangun apakah saya akan bisa menyalakan lampu? Selama delapan tahun kalian semua yang melakukannya untuk saya.” Menurut Nancy Reagan, suaminya memang sangat menikmati kemewahan layanan Gedung Putih yang disebutnya seperti “hotel bintang delapan”. Pada kesempatan itu, para karyawan menyerahkan kenang-kenangan.

Sering berupa bendera yang dikibarkan di Gedung Putih saat hari pelantikan presiden tersebut. Tapi kadang staf membuat benda khusus, seperti misalnya, kepada Ibu Negara Hillary Clinton mereka khusus membuat sarung bantal besar yang dibuat dari kain perca sisa material redekorasi Gedung Putih. Keluarga presiden yang baru akan kembali pada pk.17.00 untuk istirahat sebentar dan bersiap-siap untuk menghadiri pesta dansa inaugurasi. Artinya, hanya ada + 6 jam untuk menyulap rumah besar itu menjadi kediaman keluarga presiden yang baru. Sampai odol dan sikat gigi Berhubung menyewa jasa perusahaan pindahan akan mengharuskan prosedur pengecekan sekuriti yang ribet sekali, peralihan selalu dibereskan oleh staf residens sendiri secara keroyokan.

Sambil tetap mengerjakan tugas rutin, tukang cuci piring membantu mengatur furnitur, tukang kayu mengatur frame-frame foto keluarga presiden yang baru, dst. Mengangkat, memindahkan sofa, mengganti lampu kristal, mengganti atau mengangkat furnitur, semua harus dilakukan dengan gesit, akurat, dan profesional. Yang paling berperan pada hari superrepot ini adalah Penyelia Operasional (Operations Supervisor). Berdasarkan penuturan Tony Savoy (kepala Bagian Operasional sampai 2013), truk yang mengangkut barang-barang milik keluarga presiden yang baru disuruh masuk lewat pintu-pintu gerbang yang ditentukan. Puluhan staf residens dari bagian Operational, Teknik, Bengkel Tukang Kayu, Bengkel Listrik dikerahkan untuk mengeluarkan dan mengangkut semua furnitur dari truk-truk tersebut; langsung ditempatkan di lokasi sesuai instruksi dekorator interior dari keluarga presiden baru.

Barangbarang yang tidak dipakai lagi, disimpan disuatu gedung penyimpanan dan di sana akan dilabeli dengan teliti seperti di museum. Permadani lama digulung, yang baru digelar; kasur-kasur diganti. Semua papan sandaran kepala tempat tidur diganti, lukisanlukisan ditukar dengan yang sesuai dengan selera keluarga baru. Boksboks milik keluarga presiden baru dibuka dan dibongkar. Kemeja, celana, baju, sampai kaus kaki, dilipat dengan rapi dan ditata di dalam almari atau laci. Tidak ada yang dilupakan, termasuk sikat gigi dan odol baru di meja konter kamar mandi!

Menurut Bob Scanlan, salah seorang floris yang membantu peralihan keluarga Bill Clinton (presiden ke-42, 1993 – 2001) ke keluarga George W. Bush, bagi keluarga Bush, Gedung Putih dan staf residensnya sudah tidak asing. Sebagai keluarga terpandang mereka sudah terbiasa dikelilingi banyak staf. Dan mereka sudah biasa keluar-masuk Gedung Putih di zaman “Old man Bush” (Presiden ke-41, George H.W. Bush, 1989 – 1993). Sesuai tradisi, presiden lama meninggalkan surat kepada penggantinya, yang diletakkan di atas meja kerja presiden di Oval O?ce. Seseorang yang berhasil menjadi presiden AS otomatis menjadi anggota suatu “klub” sangat eksklusif. Tanggung jawab dan tekanan yang akan dirasakan presiden baru hanya dapat dipahami oleh orang yang sudah pernah merasakannya.

Entah apa yang ditulis, karena isinya tidak dipublikasikan. Ketika Clinton pergi, ia menyerahkan surat George H.W. Bush kepadanya dulu, selain suratnya sendiri kepada George W. Bush. Dibandingkan dengan presidenpresiden di zaman modern, Barack Obama dan keluarganya yang paling sulit menyesuaikan diri. Dapat dimengerti karena kediaman mereka sebelumnya hanya rumah biasa di kawasan Hyde Park Chicago. Mereka tak terbiasa mempunyai asisten rumah tangga apalagi sampai ratusan (lihat boks). Kamar Lincoln membawa sial? Beda orang, beda ras, beda latarbelakang pendidikan, beda usia …. semua itu memaksa staf residens dengan cepat harus menyesuaikan diri. Penjaga pintuPreston Bruce terbiasa melayani keluarga Presiden Eisenhower, presiden ke 34, yang jam tidurnya pk.22.00. Ketika Eisenhower digantikan oleh J.F. Kennedy, ia terkaget-kaget.

Baca Juga  Tips Meraih Kesuksesan Berkarir di Usia Muda

Kalau pendahulunya berusia 70 tahun, Jack Kennedy baru 43 tahun, apalagi istrinya, Jackie, baru 31 tahun. Sekembalinya mereka dari pesta dansa inaugurasi pada pk. 02.00 dinihari, dikiranya mereka pasti sudah teler. Ternyata pasangan Kennedy membawa pulang banyak teman dan melanjutkan pesta di Lantai Dua. Mereka tidak menyadari bahwa staf residens dilarang pulang sebelum presiden masuk kamar tidur. Ketika tamu terakhir pulang pada pk 03.15, Bruce naik (barangkali dengan lega) untuk mematikan lampu-lampu. Sampai di kamar tidur presiden, lo … kosong? “Itu kamu Bruce? Saya di sini, di Lincoln Bedroom,” teriak Jack. Rupanya ia tidur di sana. Bruce agak terkejut, karena bagi para karyawan, kamar itu membawa sial. Jack minta diambilkan Coca Cola dan minta tolong jendela dibuka untuk membiarkan udara dingin segar masuk. Lalu terdengar Jackie berteriak dari The Queen’s Bedroom, minta diambilkan minuman.

Begitulah. Akhirnya Bruce baru bisa pulang pada pk.04.00. Karena Bruce tugas malam untuk mengantarkan minuman setelah makan malam, ia sering menjadi saksi kemesraan presiden dengan ibu negara. Misalnya saat Jack dan Jackie berlarian antara kamarnya dan kamar Jackie atau sebaliknya. Jackie dengan agak nakal mengatakan, “Santai saja, Bruce, kamu juga sudah menikah kan?” Pada tahun 1975, seorang mantan staf residens di Gedung Putih bernama Traphes Bryant buka mulut soal “kebadungan” JFK dalam bukunya. Waktu itu, Jackie Kennedy sering melarikan diri dari lingkungan Gedung Putih yang amat protokoler ke Glen Ora, rumah pertanian seluas lebih dari 160 Ha yang mereka sewa.

Saat ia absen, di gedung Putih pasti terjadi banyak “penampakan”. Siapa pun tidak ingin memergoki adegan terlarang karena takut pada keselamatan pekerjaannya. Menurut Bryant, kolam renang sering menjadi tempat JFK rendezvous dengan pacar-pacarnya. Beberapa karyawan residens sempat memergoki presiden berenang tanpa busana, ditemani pembantu terdekatnya dan sekretaris Gedung Putih. Bahkan ada yang melihat sekilas wanita tanpa busana di dapur.

Memang, seharusnya tak ada karyawan yang boleh berkeliaran karena presiden menginginkan privasinya terjaga betul pada saatsaat itu. Bahkan chef pun disuruh menyiapkan hidangan atau snack yang gampang dihangatkan dan minuman siap di kulkas, lalu dipersilakan pulang. Tapi apa boleh buat, para “pelihat” mengaku memergoki secara tak sengaja. Ada yang saking takutnya, menyimpan rahasia itu di dalam keluarga saja sampai puluhan tahun. Pada tahun 1962 Jackie pertama kalinya mengadakan tur Gedung Putih yang ditayangkan di TV.

Atas inisiatifnya masa itu Gedung Putih telah selesai diredekorasi. Interiornya dibuat modern dengan memasukkan unsur kesejarahan sambil tetap mengedepankan keanggunan yang kontemporer. Jackie membentuk tim Komite Kesenian Gedung Putih, juga Kantor Kurator. Sejak Jackie, benda-benda yang dipajang atau dipakai di Gedung Putih harus mempunyai alasan keindahan dan kesejarahan yang layak. Tayangan itu ditonton oleh 80 juta pemirsa dan menjadikan Jackie Ibu Negara paling populer. Persis seperti Abraham Lincoln Tidak ada yang mengira bahwa nasib tragis bakal menimpa pasangan muda yang energetik dan cerdas itu. Begini kisah Usher Nelson Pierce yang terjadi pada hari nahas 22 November 1963.

Sore ia baru saja masuk gerbang mau mulai bertugas, ketika seorang Secret Service berteriak panik, “Pierce lekas masuk kantor. Bos tertembak.” Dia juga yang menerima pemberitahuan dari Secret Service di Parkland Hospital, Dallas, bahwa presiden meninggal dunia. Masuk bekerja pada hari Jumat dan baru pulang pada hari Rabu malam. Ia bekerja tanpa panduan, karena tidak ada presiden di masa modern yang tewas saat menjabat. Hal pertama yang dilakukannya, memerintahkan teknisi untuk menurunkan bendera di atas Gedung Putih menjadi setengah tiang. Saat memandang bendera itulah ia tak dapat lagi menahan tangisnya. Lewat telepon dari dalam Airforce One yang mengangkut jasad JFK, sekretaris pribadi Jackie Kennedy memberi tahu Pierce bahwa Jackie menginginkan upacara pemakaman dibuat seperti upacara pemakaman Presiden Abraham Lincoln.

Bekerja sama dengan Kantor Kurator dan Library of Congress, ia mencari tahu. (Abraham Lincoln tewas ditembak saat masih menjabat pada 15 April 1865.) Beberapa bulan sebelumnya, anak bungsu keluarga Kennedy, Patrick Bouvier Kennedy, lahir prematur dan meninggal. Banyak yang mengatakan, kehilangan Patrick menyebabkan keduanya kembali akrab. Dapat dibayangkan beratnya pukulan yang menimpa Jackie saat itu. Kepala usher, JB West mendapat kehormatan untuk ikut berjalan dalam perarakan mengiringi kereta jenazah, bersama-sama para pemimpin dunia seperti Charles de Gaulle dan kaisar Ethiopia Haile Selassie. JB West, keturunan budak, yang selalu disapa Jackie sebagai “Mr West”, tak dapat melupakan kehormatan tertinggi itu sampai 50 tahun kemudian. Ia juga masih ingat, Jackie melarang anak-anak-nya menyapa staf residens tanpa “Mr” atau “Mrs” atau “Miss”.

Baca Juga  Bantuan Pemerintah untuk Rakyat Miskin

Pada hari Minggu, hanya tiga hari setelah pembunuhan itu, peti jenazah JFK yang ditutup bendera, dinaikkan kereta ditarik kuda, kereta yang sama yang dipakai untuk mengangkut peti jenazah Lincoln. Peti jenazah dibawa ke Gedung Capitol untuk menerima penghormatan terakhir selama 21 jam. Seekor kuda hitam tanpa penunggang juga ada dalam prosesi, persis seperti saat Lincoln hampir seratus tahun sebelumnya. Proyek shower LBJ Tentunya transisi dari keluarga JFK ke Lyndon B. Johnson, wakil presiden yang disumpah di pesawat Air Force One menjadi presiden, terjadi sangat mendadak. Sifat LBJ yang “intimidatif” jelas tidak membantu. Ia tak segan menyemprot seseorang di hadapan banyak orang. Kebiasaan ini kemudian dikenal sebagai “the Treatment”.

Mantan guru SMA ini gemar berjalan-jalan keliling Gedung Putih untuk memberikan “nilai” kepada karyawan termasuk anggota keluarganya sendiri. Ia suka melongok ke dalam tiap bengkel di basement, lalu mengatakan, “Hari ini nilaimu F.” Ia juga gemar bercanda soal toilet. Dan ia tak kurang genit terhadap wanita. Tukang ledeng Foreman Arrington, pernah “dikerjain” habis oleh LBJ. Siksaan LBJ itu berupa komplain yang tak ada habisnya soal shower di kamar mandinya. Setiap kali, Arrington selalu diberinya “F”. Dua hari sejak menghuni Gedung Putih, LBJ sudah komplain kepada Kepala Usher JB West, “Mr. West, kalau kamu tidak dapat memperbaiki shower saya, mending saya balik ke The Elms,” ujar LBJ. The Elms adalah gedung kediaman keluarga LBJ di Washington DC.

Setelah diselidiki, shower pribadi LBJ ternyata tiada duanya di dunia! Nozzle (penyemprot) airnya ada di segala arah dengan intensitas daya semprot sangat tinggi dan sangat kuat sampai membuat salah satu teknisi terpelanting saat uji coba. Satu nozzle bahkan khusus diarahkan ke bagian intim presiden, yang oleh LBJ disebutnya “Jumbo”. Proyek shower ini akhirnya mengharuskan dipasangnya tidak saja empat pompa baru, tapi juga instalasi jaringan pipa ledeng baru dengan diameter pipa yang lebih besar. Sebab kalau tidak diperbesar pipanya, ruangan lain kekurangan tekanan karena tersedot shower LBJ. Atas perintah presiden, biaya yang sampai puluhan ribu dolar “dikutip” dari anggaran keamanan.

Kegembiraan dan kepahitan dalam keluarga presiden jelas turut dirasakan dan disaksikan dari dekat oleh staf residens. Salah satunya terjadi ketika Presiden Bill Clinton berlumuran darah. Bahkan darah juga ditemukan di tempat tidur Ibu Negara. Kepala Bill perlu dijahit di beberapa tempat. Menurut pengakuannya, itu akibat malam harinya ia tak sengaja menubruk pintu kamar mandi. Tapi mana ada yang percaya? “Kami yakin benar, Ibu Hillary memukulnya dengan buku,” ujar seorang pekerja. Insiden itu terjadi tak lama setelah perselingkuhan Bill Clinton dengan Monica Lewinsky (22 tahun, tenaga magang di Gedung Putih) masuk ke ranah publik. Di meja samping ranjang Ibu Negara memang ada dua puluhan buku yang dengan gampang dapat beralih fungsi. Walaupun publik baru mengetahui masalah Lewinsky pada Januari 1998, beberapa karyawan residens sudah mengetahuinya saat sedang berlangsung, antara November 1995 sampai Maret 1997.

Bill bersama Monica sering terlihat di bioskop pribadi keluarga presiden. Para karyawan lalu saling berbagi info di mana dan kapan telah melihat “penampakan” Monica. Gara-gara krisis Monica Lewinsky, Bill Clinton nyaris dimakzulkan. Cake moka untuk Hillary Tentang tahun-tahun terakhir masa pemerintahan Clinton, floris Bob Scanlan terus-terang menggambarkan, “Suasana Lantai Dua seperti di kamar jenazah. Nyonya Clinton tidak pernah terlihat.” Kalau pun tidak sunyi senyap, maka rumah besar itu penuh dengan intrik dan pertengkaran yang panas. Floris Ronn Payne bersama dua orang kepala pelayan pernah nguping di depan pintu ruang West Sitting Hall saat Bill dan Hillary bertengkar hebat. Mereka mendengar Hillary memaki, “Goddamm bastard!” lalu terdengar suatu benda berat dilemparkan.

Gosip di antara para karyawan, Hillary melemparkan lampu. Selama tiga atau empat bulan pada tahun 1998 itu, presiden AS tidur di sofa ruang kantor pribadinya, persis di sebelah kamar tidur mereka di Lantai Dua. Tidak mengherankan, semua karyawan wanita berpandangan sama: bos mereka layak menerimanya. Pastry Chef Roland Mesnier mempunyai cara yang khas untuk menghibur Hillary di tahun-tahun berat itu. Dapat dikatakan, cake moka buatan Mesnier membantu Hillary bertahan. “Saya membuat banyak, banyak sekali cake moka,” kata Mesnier sambil tertawa pelan. Kadang-kadang, barangkali karena sudah terbiasa, bagi presiden dan ibu negara tertentu, para staf residens ini sepertinya tidak ada. Usher Nelson Pierce suatu malam naik untuk mengantarkan beberapa koper ke kamar Reagan.

Pas saat itu, Nancy Reagan membuka pintu dan pria paling berkua- sa di dunia saat itu, tanpa ba-bi-bu langsung ia marahi di hadapannya. “Ibu Nancy memarahi suaminya karena menghidupkan televisi. Ia harusnya tidur, “ tutur Pierce. Ronald Reagan hanya menjawab, “Honey, saya kan cuma menonton berita jam 11.” Pierce dengan tergesa-gesa meletakkan koperkoper dan kabur secepatnya. Presiden Johnson lain lagi. Ia dengan cuek saja berganti pakaian di hadapan staf dan sangat suka memberi perintah sambil duduk di toilet.

Baca Juga  Begini Cara Tiongkok Menghadapi Tantangan Ekonomi di Negaranya

Reporter Frank Cormier malah mengaku terkejut saat menyaksikan di pesawat kepresidenan Air Force One, Sersan yang menjadi pramugara bersama Valet Paul Glynn sedang berlutut di depan Presiden untuk mencuci kakinya. Dan Johnson cuek saja terhadap Glynn. Namun, jika ditanya, siapa bos yang paling menyiksa, mereka tidak akan menjawab LJB, tapi Nancy Reagan. Suatu hari, floris Ronn Payne dipanggil oleh Nancy ke West Sitting Hall di Lantai Dua. Dia hanya mengatakan, “Ronn, lampunya,” sambil menunjuk ke atas dengan dramatis, “belum menyala.” Payne melihat di dekat situ ada switch lampu.

Ternyata Nancy malah hanya mengatakan, “Terima kasih,” tanpa rasa bersalah sama sekali. Tanpa sungkan Payne mengutarakan kejengkelannya mengenang kembali tingkah Nancy yang banyak maunya. “ … Kalau ia menginginkan bunga freesia, lalu saya bujuk untuk menggantinya dengan white snaps karena freesia sedang tidak musim, ia santai saja menjawab, “’Kamu pasti bisa menemukan freesia.’” Dan memang, bisa. Dengan mendatangkan dari Eropa lewat layanan kirim semalam. Cletus Clark (tukang cat) masih ingat, ketika Nancy meredekorasi Lantai Dua dan Lantai Tiga, jam kerjanya dari pk.07.30 sampai pk.16.00 setiap hari tanpa libur. Ketika ia pulang pada pk.20.00 pun Nancy tidak akan suka.

Walhasil, setiap kali mau pulang ia harus mengendap-endap menghindari pertemuan dengan si bos. Kenyentrikan Nancy dapatlah dikatakan menandingi LBJ. Nancy tidak pernah tahan pada perempuan berambut panjang, ia memerintahkan agar semua pakaiannya diberi label dengan informasi tanggal pembelian dan kapan terakhir dikenakan. Koleksi pajangannya amat banyak, dan harus ditata dengan rapi di atas meja. Bergeser satu inci saja, ia akan tahu. Apalagi pecah! Akibatnya sangat mengerikan, seperti pernah dialami Christine Limerick, kepala Bagian Housekeeping 1979 – 2008. “Di awal masa jabatan Reagan, ada beberapa barang koleksi Ny. Reagan yang jatuh pecah.

Satu piring antik buatan Limoges oleh orang Housekeeping, satu tempat lilin oleh Secret Service, dan satu lagi beberapa barang pecah gara-gara seorang petugas Operasional tersandung.” Nancy menyalahkan Limerick.” Dia mengunyah saya habis-habisan,” ujar Christine. Murkanya demikian lama sampai Chief Usher Rex Scouten tak tega. Kesayangan Nancy ini menyuruh Limerick pulang, lalu ia yang menggantikan menerima murka Nancy. Limerick lalu memberlakukan prosedur bahwa setiap bulan mereka mengadakan pembersihan besar dalam setiap ruangan pribadi presiden dan ibu negara.

Setiap kali, kondisi ruangan sebelum dibersihkan difoto terlebih dulu sebagai pedoman ia mengontrol. Begitupun, setelah tujuh tahun, pada tahun 1986 Limerick tak tahan juga dan keluar. Ia baru kembali melanjutkan kariernya di Gedung putih pada tahun 1991. Ditanya penyebabnya, “Bukan karena Ny. Reagan seperti itu, tetapi karena saya menyadari saya sudah nyaris membantah terhadap beliau.” Dan kalau sampai terjadi, itu merupakan dosa berat di Gedung Putih. Limerick kembali bekerja melayani keluarga Bush tua, lalu Clinton, dan Bush muda.

Sebaliknya dari Nancy Reagan, Barbara Bush disebut, “berhati emas.” Pasangan Bush senior memperlakukan para staf dengan sangat simpatik dan menghormati mereka. Sedangkan Hillary Clinton menurutnya sangat berpihak dan simpatik terhadap perempuan pekerja. Dansa di malam pertama Bagaimana dengan Obama? Sebagai presiden pertama dari keturunan Afrika, ia mengukir sejarah baru. Pada tahun 2009, seusai menghadiri pesta dansa inaugurasi, Usher Worthington White naik ke Lantai Dua untuk meletakkan koran malam. Ia menyaksikan Barack Obama yang cuma berkemeja dan Michelle yang sudah berganti celana training dan T-shirt berdansa diiringi lagu “Real Love” dari Mary J. Blige, seorang komposer keturunan Afrika.

Sebelumnya tak pernah ada musik karya komposer hitam terdengar di sana. Walaupun para karyawan amat bangga dan merasakan ada relasi khusus karena persamaan ras, keluarga Obama sangat menjaga jarak. Di masa Obama, jarang sekali orang diperbolehkan untuk naik ke Lantai Dua. Pada malam hari, keluarga Obama mematikan sendiri penerangan di Lantai Dua dan Tiga. Awal tahun ini, staf residens Gedung Putih mereka mendapatkan bos baru yang dikenal cukup kontroversial. Namun, bertahuntahun mereka telah membuktikan, dengan semangat pengabdian yang militan, mereka akan mampu melakukan apa saja demi kenyamanan keluarga presiden. Lagi pula, siapa pun presidennya, penghuni permanen Gedung Putih sebenarnya para pekerja ini ….

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.