Indonesia Mengajar Guru Garis Depan Kisah Guru Inspiratif Mengajar di Pedalaman

  • Whatsapp
[Total: 0    Average: 0/5]

Indonesia Mengajar Guru Garis Depan Kisah Guru Inspiratif

Henny Kristianus Pendidikan Untuk Anak-anak Pedalaman

 

Januari 2006, Henny Kristianus bersama keluarga kecilnya sudah mempunyai bisnis yang melejit dan mendapat Permanent Resident (PR) di Australia, namun dengan kesadaran tinggi ia melepaskan itu semua. Henny justru meninggalkan kemapanan untuk menuju daerah-daerah pedalaman di seluruh Indonesia. Rencana awalnya, Henny hanya liburan bersama anak kembarnya, Chloe dan Zoe Kristianus yang masih berusia 4,5 bulan. Sebulan kemudian, ia memutuskan untuk tinggal di Indonesia. Lalu Yoanes Kristianus, suaminya mendapat pekerjaan di Bandung, mereka pun tinggal di sebuah ruko yang dekat dengan tempat pembuangan sampah. Di sana ada banyak anak yang tidak sekolah dan hanya bermain.

Masa kecilnya yang jauh dari kata bahagia dan persoalan yang ia lihat, membuat Henny menaruh perhatian tersendiri bagi kaum papa itu. Henny pun menawarkan anak-anak tersebut untuk belajar Bahasa Inggris. “Awalnya lima anak yang saya ajarin pakai papan tulis kecil dan buku anak saya. Setelah itu jadi beberapa puluh anak,” kenang wanita yang memiliki tiga anak ini. Panti asuhan Karena kontrak kerja suami selesai, Henny dan keluarga pindah ke Jakarta. Henny pun mulai mencari tahu apa yang paling dibutuhkan oleh orang miskin untuk dapat menolong mereka.

Apakah uang atau makanan. Tiba-tiba, ia merasa Tuhan seperti memberi jawaban kepadanya. Bahwa yang paling diperlukan orang miskin adalah ke luar dari kemiskinan. Caranya dengan memberi mereka keterampilan sehingga dapat menghasilkan uang dan membuat kehidupan keluarganya menjadi lebih baik. Atas kesadaran itulah Henny mendirikan Yayasan Tangan Pengharapan (YTP) pada 2007. Yayasan ini memfokuskan diri pada pelayanan pendidikan gratis untuk anak jalanan. September 2007, Henny menyediakan delapan titik Feeding Center di Jakarta. Terdengar mewah, namun sebenarnya itu hanya sebuah ruang kecil dan satu buah dapur. Total ada 1.028 anak jalanan yang mendapat pendidikan dan makanan gratis.

Sayangnya, pada Maret 2008, Henny menghentikan kegiatan ini karena merasa anak jalanan di Jakarta tidak membutuhkannya. “Anak-anak jalanan di Jakarta itu tidak mau sekolah. Mereka lebih suka cari uang dan uangnya digunakan untuk bermain. Kalau makanan tidak enak, mereka tidak mau makan,” ujar wanita berusia 39 tahun ini. Oleh karena itu, Henny ingin mencari anak-anak tidak mampu yang paling membutuhkan bantuannya. Tidak lama kemudian, Henny dikenalkan pada sebuah panti asuhan di daerah Pegangsaan Dua, Kelapa Gading. Di panti asuhan ini terdapat 135 anak yang berasal dari seluruh Nusantara. Dari sinilah awal mula langkah Henny untuk menuju daerah pedalaman. Kota pertama yang Henny datangi adalah Halmahera Utara, Maluku pada 2008. Di daerah timur Indonesia ini, Henny membantu 225 anak.

Baca Juga  Rasa Es Krim Magnum Paling Enak

Selanjutnya ia ke dusun Pepe, Grobogan, Jawa Tengah. Menurut informasi ada sekitar 75-80 anak yang membutuhkan bantuan pendidikan dan kesehatan. Setelah dua tempat itu, secara bertahap Henny dan YTP mulai mengelilingi daerah pedalaman di Indonesia. Seperti NTT, Papua, Mentawai, Kalbar, Sumba, dan Sulawesi. “Sampai akhir 2016, ada 5.000 anak di 50 titik di seluruh Indonesia yang sudah menerima bantuan dari YTP,” jelas wanita yang bisa berada di pedalaman selama 10-12 hari ini. Rumah sehat Setelah terlibat perbincangan lama bersama Intisari, Henny pun menceritakan tentang pengalaman tak terlupakannya selama terjun langsung ke pedalaman di Indonesia.

Ingatannya kembali ke saat kunjungannya ke Timor, NTT. Menurut Henny, daerah ini yang paling memperihatinkan. Selain lokasinya sangat jauh dan aksesnya susah, di sana banyak keluarga yang tinggal dalam gubuk bulat yang terbuat dari dedaunan. Salah satu penduduk di sana bernama ibu Jeni Beis. Ibu ini menderita TBC akut stadium empat. Ia tinggal di salah satu gubuk bersama dua anaknya karena suaminya sudah meninggalkannya. Setiap hari ibu Jeni Beis berdoa agar ia bisa tinggal di sebuah rumah yang baik. Mendengar doa ibu Jeni Beis, tanpa berpikir panjang Henny langsung berkata pada timnya, “Ayo kita bangun rumah.” Di NTT, rumah semi permanen biasanya berbahan bata merah dan beratap seng.

Harganya tidak terlalu mahal, sekitar Rp10-15 juta. Beberapa bulan kemudian, rumah tersebut telah jadi. Walau pada akhirnya ibu Jeni Beis meninggal dunia, tapi ia dan kedua anaknya sempat tinggal di rumah itu. “Sebelum meninggal, saya ingat betul jika ibu Jeni Beis menatap saya seperti ingin mengucap terima kasih,” kenang Henny. Kini, kedua anak ibu Jeni Beis diasuh oleh tim Children Rescue Home, NTT. Sejak kejadian itu, Henny dan YTP membangun rumah sehat di Timor, NTT. Sampai saat ini pembangunan rumah sehat sudah mencapai 70 rumah. Rumah tersebut terdiri atas dua kamar dan satu kamar mandi. Henny juga membuat program rumah belajar. Konsepnya juga sederhana yakni beberapa ruang untuk ruang kelas yang terbuat dari semen, atap seng, dan kawat.

Baca Juga  Staf Residens Gedung Putih - Semangat Pengabdian Dua Ratus Persen

Total sudah ada 25 rumah belajar. “Rencananya tahun 2017 akan ditambah lima lagi di beberapa daerah,” tutur Henny. Program lainnya adalah Life Changing Journey, yang dibuka untuk siapapun untuk berbagi hidup. Ada empat kategori yang bisa dipilih, yaitu mengajar, memasak, training (pelatihan), dan membangun. Jika suka mengajar, maka ia harus siap ditempatkan untuk mengajar di center-center YTP atau di sekolah-sekolah dasar di seluruh Indonesia. Tapi jika sukanya membuat tas, maka ia bisa melatih anak-anak untuk membuatnya.

Henny bahkan menyakini jika seseorang mengikuti program ini, maka hidupnya pasti berubah. “Ia akan semakin bersyukur dengan apa yang telah ia miliki sekarang,” tambahnya. Terakhir, Henny berpesan bahwa hidup ini cuma sementara. Jika kita sudah bisa memenuhi kehidupan diri sendiri lalu selanjutnya apa? Hidup akan jauh lebih bermakna jika bisa membuat hidup orang lain lebih baik. “Saya berharap apa yang telah saya lakukan bersama YTP akan melahirkan generasi yang lebih baik untuk Indonesia,” terangnya.

 

Masa kecil yang tidak bahagia

Terlahir dengan nama Henny Lim, wanita kelahiran Jakarta 23 Januari 1978 ini berkata apa yang dilakukannya sekarang ini tidak pernah direncanakan. Henny lahir dari keluarga broken home. Kedua orangtuanya bercerai ketika usia Henny baru 10 tahun. Kakak laki-lakinya diadopsi pamannya. Sementara ia dan adik laki-lakinya tinggal bersama keluarga ayahnya di Pulau Bangka. Tahun 1994, ketika usianya menginjak 18 tahun, Henny d?emput sang ibu dan dikirim bersekolah ke Sydney, Australia pada 1996.

Baca Juga  Mewujudkan Masyarakat Inklusif Lewat Musik

Harusnya adiknya yang bersekolah sana. Namun karena sedang sakit typus, Hennylah yang dikirim menggantikan adiknya. Namun belakangan diketahui ibunya “meninggalkan” ia di Australia. Bahkan biaya sekolah di Commerce Foundation of UNSW, Sydney, sekolah pilihan ibunya hanya dibayar selama satu tahun saja. Praktis, hidup Henny menjadi berat. Tidak ada kata bermain bagi Henny remaja. Seluruh waktu remajanya digunakan untuk bekerja. Misalnya ketika beribadah ke gereja, Henny akan membawa roti dari pabrik dan menjualnya setelah acara ibadah selesai. Atau ketika Henny melanjutkan pendidikannya di Aquila College, Sydney, ia bekerja sebagai kasir di Clancy’s Supermarket di Oxford St. Sydney dan beberapa tempat lainnya.

 

Penjara khusus anak

Ada satu lagi impian Henny, yaitu membuat penjara khusus anak. Walau terdengar jahat, sebenarnya penjara yang dimaksud lebih seperti asrama. Di mana, tidak ada orangtua yang menjemputnya untuk bekerja di jalan atau premanpreman yang memaksa mengemis. Di penjara anak, Henny ingin anak-anak tersebut mendapat 50% teori belajar dan 50% praktik keterampilan. Sehingga ketika ke luar dari penjara, mereka tidak perlu sekolah tapi langsung bisa bekerja, seperti entrepreneur. Contoh sederhana, mereka yang pandai membuat kue, berjualan kue. Mereka yang pandai memotong rambut, bekerja di salon.

Mereka akan dilatih keterampilan sesuai minatnya masing-masing. Sayang, impian ini susah direalisasikan karena terhalang biaya dan izin pemerintah. Oleh sebab itu, Henny memutarnya idenya menjadi terjun langsung membantu narapidana anak-anak di lapas yang ada. Mulai 2016, Henny sudah membantu 80 narapidana anak-anak di lapas Salemba, Jakarta. Selain itu, ia juga membantu 190 narapidana anakanak di lapas Sukamiskin, Bandung dan lapas perempuan. Bantuan yang telah Henny dan YTP berikan berupa ujian paket A, B, dan C, pelajaran komputer dan Bahasa Inggris, serta yang baru-baru saja life skill yang bekerja sama dengan Tokopedia.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.