Ide Bisnis di Bidang Fotografi dan Merintis Bisnis Studio Fotografi

  • Whatsapp
[Total: 0    Average: 0/5]

Ide Bisnis di Bidang Fotografi dan Merintis Bisnis Studio Fotografi

 

Kelahiran sang buah hati merupakan momen paling ditunggu-tunggu sekaligus bahagia bagi setiap pasangan suami istri. Terlebih jika kelahiran tersebut merupakan anak pertama. Beberapa persiapan pun mulai dilakukan demi menyambut kelahiran si jabang bayi. Salah satunya dengan mengabadikannya dalam selembar foto.

Jelang proses kelahiran bayi keduanya, pada Juli 2016, Dwina Dharma (35) mulai disibukkan dengan berbagai persiapan. Mulai dari nama, pakaian, hingga beberapa perlengkapan bayi. Bisa dibilang Dwina seperti mempersiapkan kelahiran anak pertama kembali. Maklum, jarak anak pertama dengan anak keduanya cukup jauh, delapan tahun. Ditambah lagi, berbeda jenis kelamin. Anak pertama laki-laki dan kedua perempuan. Namun, ada yang berbeda dari persiapan kelahiran anak pertama dengan anak keduanya. Dwina menyiapkan newborn photography atau fotografi bayi baru lahir alias bayi yang masih merah. Bahkan, hal itu sudah ia persiapkan jauh sebelum hamil, yakni sekitar 2014.

Tujuan Dwina mempersiapkan semua hal itu tak lain untuk mengabadikan setiap momen si buah hati. Selain itu, tertarik dengan tren newborn photography yang tengah mewabah. “Momen bayi itu enggak akan terulang jadi perlu diabadikan. Apalagi pas hamil anak pertama tren itu belum ada,” ucap perempuan yang tinggal di kawasan Pondok Aren, Tangerang. Dwina mengatakan, awalnya, ia sempat khawatir menggunakan jasa newborn photography. Pasalnya, anak keduanya, Tyana Deandra, baru berusia lima hari. Tentunya masih mungil dan ringkih. Akan tetapi, berkat skill dan pengalaman profesional yang dikantongi oleh sang fotografer membuat rasa khawatirnya perlahan luntur.

Apalagi pose-pose yang dikreasikan tidak membahayakan bayi. Ada beberapa pose yang justru diedit menggunakan Photoshop. “Malah fotografernya lebih luwes dibandingin aku. Mereka hati-hati dalam memegang atau mengatur pose bayi dan paham betul kondisi bayi. Buktinya, bayinya bisa tenang selama dipotret,” kagum Dwina. Hanya usia 0-14 hari Newborn photography kian ngehits setelah sejumlah selebritas dunia maupun Tanah Air melakukannya. Ditambah, menjamurnya platform media sosial membuat para orang tua berlomba mengunggah foto lucu bayi mereka. Tren ini sudah ada sejak 2010. Namun, baru populer di Indonesia pada 2014. Tren ini meningkat di kalangan keluarga muda, khususnya mereka yang tinggal di perkotaaan. Kepopuleran itu pun ditangkap oleh segelintir orang sebagai peluang usaha. Salah satunya Clik-Portraiture, yang berlokasi di Jakarta.

Baca Juga  Ramalan Bintang Zodiak Minggu ini

Jasa foto yang dimiliki oleh Evelina Sudarmadji atau yang biasa disapa Evelin itu sudah fokus di newborn photography sejak 2012. Ia memilih fokus di newborn photography lantaran masih sedikitnya pemain yang terjun kala itu. Sebelumnya, ia fokus memotret untuk maternity photography atau kehamilan dan birthday party. Berbeda dengan children photography, newborn photography menyasar bayi yang baru lahir atau bayi merah dengan usia 0 hingga 14 hari. Alasannya, menurut Evelin, pada usia itu bayi sangat jarang bergerak dan lebih banyak tidur, sehingga posenya lebih mudah dikreasikan dan dipotret oleh fotografer.

Oleh karena itu, sebelum memotret, sang bayi terlebih dahulu harus disusui agar tetap dalam kondisi kenyang, sehingga tidak akan rewel atau terbangun lantaran lapar selama pemotretan. “Harus disusui dulu biar tenang,” ucap perempuan yang pernah mengikuti kursus fotografi di Darwis Triady School of Photography pada 2009 itu. “Suhu ruangannya juga harus hangat karena bayi baru lahir senang kehangatan,” tambah Dwina. Sisi keibuan Meski lebih banyak tidur, memotret bayi merah juga bukan hal gampang. Pasalnya, memotret bayi merah sangat berbeda dengan memotret anak-anak apalagi orang dewasa. Butuh kesabaran ekstra, kehati-hatian, dan teknik tepat untuk bisa mendapatkan pose yang lucu dan sesuai dengan keinginan klien.

Selain itu, fotografer juga harus menyukai bayi dan memiliki sisi keibuan, seperti menggendong, memegang, dan membedong. Soal sisi keibuan, kata Evelin, tak jarang juga ditanyakan oleh para orangtua bayi. Biasanya, para orangtua tak lagi merasa khawatir jika fotografer sudah mengantongi kemampuan itu. “Apalagi aku sudah punya anak. Jadi, mereka rada tenang,” ucap Evelin, yang bisa memotret sekitar 20 bayi dalam sebulan. Evelin mengatakan, proses pemotret bayi berlangsung sekitar tiga jam dan dilakukan di rumah klien. Mengingat, tradisi orang Indonesia melarang bayi untuk bepergian jauh sebelum usia 40 hari. Ditambah lagi, agar tidak merepotkan sang ibu untuk pergi ke studio. “Segala properti yang dibutuhkan untuk pemotretan dibawa ke rumah klien. Jadi, klien tidak perlu menyiapkan apa-apa lagi,” kata Evelin yang mengaku memerlukan modal Rp20 juta untuk memulai usaha itu. Soal tarif, Evelin mematok sekitar Rp 5,5 juta.

Baca Juga  Berapa Modal Bisnis Baby Spa ?

Dengan tarif sebesar itu, klien akan memperoleh 15 fi les foto yang sudah diedit, tapi belum dicetak, satu album berisi 15 foto, dan satu foto yang sudah dicetak dan dibingkai berukuran 8R dengan pigura kayu. Akan tetapi, jika klien berada di luar Jakarta dikenakan biaya tambahan, seperti transportasi. Ibu hamil Selain newborn photography, ada pula jasa fotografi yang tengah ramai dan banyak digunakan oleh keluarga muda, khususnya ibu-ibu muda, yakni maternity photography. Sesuai dengan namanya, fotografi ini fokus memotret momen kehamilan alias ibu-ibu hamil. Maternity photography menyasar ibu-ibu hamil dengan usia kehamilan sekitar tujuh sampai delapan bulan. “Di usia itu perut sudah tampak besar, sehingga momen maternity-nya dapat,” kata Rheta (25), sales and marketing dari Baby Axioo Photography di Jakarta. Rheta mengatakan, kebanyakan klien yang menggunakan jasa maternity adalah mereka yang baru pertama kali hamil atau hamil anak pertama.

Meski demikian, ada pula beberapa klien yang hamil anak kedua atau kehamilan berikutnya. Proses pemotretan, lanjut Rheta, berlangsung kurang lebih sekitar dua jam dan dapat dilakukan di mana pun sesuai permintaan klien. Akan tetapi, biasanya, pemotretan lebih banyak dilakukan di studio mengingat ketersediaan alat. “Ada sesi indoor dan outdoor. Klien bisa pilih mau di indoor, outdoor, atau keduanya,” jelas Rheta. Dalam sebulan, Baby Axioo dapat memotret sekitar 25 ibu hamil. Soal tarif, Baby Axioo enggan menyebut harga pasti Maternity Photography untuk sekali pemotretan. Akan tetapi, harga per paket bervariasi. Klien akan memperoleh beberapa lembar foto yang telah diedit, album box, dan foto bersama pasangan. “Tarif sesuai dengan target klien kami. Kalau mau pakai make up, hair stylish, dan wardrobe tarif nambah, tapi kami tidak menyediakan itu. Jadi, klien yang booking sendiri,” kata Rheta.

Baca Juga  Staf Residens Gedung Putih - Semangat Pengabdian Dua Ratus Persen

Etika Mengunggah Foto Anak ke Medsos

Setiap orangtua tentu sangat bahagia melihat pertumbuhan, perkembangan, dan pola tingkah laku si buah hati. Tak jarang, rasa bahagia itu diabadikan lewat foto kemudian dibagikan dalam media sosial. Sayangnya, tidak semua foto tentang anak boleh diunggah oleh orang tua di media sosial. Sebab, salah unggah, risikonya dapat mengancam keselamatan sekaligus berdampak buruk pada masa depan anak. Mengantisipasi hal itu, Dwina sangat berhati-hati sebelum mengunggah foto anak di media sosial. Ia sadar, ketika mengunggah foto anak di media sosial itu artinya ia sedang memberitahu indentitas si anak.

Oleh karena itu, hal utama yang dilakukan oleh Dwina adalah memastikan orang-orang di dalam lingkaran pertemananya merupakan teman, kerabat, dan keluarga dekat. “Akun Path sangat privasi. Begitu juga Instagram aku protect. Kalau bukan teman tidak aku terima. Di facebook foto anak aku kunci. Lagipula, aku juga bukan ibu-ibu yang aktif upload foto anak di medsos,” kata ibu dari dua anak itu. Dwina mengaku, ia pernah sekali mengunggah foto telanjang anaknya ketika bayi, namun ia sadar bahwa hal itu dapat berbahaya bagi anak. Misalnya, eksploitasi atau mengudang fedofi l. “Enggak aku hapus karena foto bayi dan semua akun media sosialku adalah teman dekat dan keluarga meski belum tentu semua teman baik,” ucap Dwina. Hal lain yang dilakukan oleh Dwina adalah tidak menyertakan lokasi pengambilan foto. Misalnya, lokasi rumah, sekolah, atau tempattempat yang sering dikunjungi anak bersama keluarga, seperti mal. Hal ini demi menjaga keselamatan anak dan menghindari dari tindakan penculikan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.