Kepribadian dari Cara Menyetir Mobil

  • Whatsapp

Kepribadian dari Cara Menyetir Mobil

sidik jari setiap orang adalah unik. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang memiliki sidik jari yang sama dengan orang lain. Termasuk pada orang yang kembar identik. Di dunia ilmiah keunikan sidik jari ini sampai layak untuk dijadikan identitas diri. Sudah banyak hal baik personal maupun profesional yang menempatkan sidik jari sebagai identitas. Beberapa di antaranya sebagai sandi di kantor ataupun di ponsel seperti pada keluarga iPhone terbaru. Sidik jari sebagai identitas terbentuk dengan cara yang unik pula.

“Prosesnya sudah dimulai sejak manusia dalam kandungan dan bersifat permanen sejak lahir hingga dewasa,” ucap Andrian Benny Hidayat dari Talents Spectrum, sebuah lembaga pengembangan kepribadian manusia berdasarkan Psycho Biometric Method. Karena sidik jari merupakan representasi kerja otak, maka dari sidik jari pula kita bisa melihat bagaimana otak bekerja. Menjadi data biologis maka sidik jari disebut juga sebagai data biometric. Selanjutnya dalam pengenalan personal dan karakter diri, biometric juga bisa dilihat dari garis tangan. Talents Spectrum menggunakan kedua data biometric ini untuk melihat bagaimana karakter pengemudi. Itu sebabnya karena data biometric digunakan sebagai cara untuk melihat cara kerja otak, maka dikaitkan dengan proses mengemudi maka program yang dijalankan Talents Spectrum adalah Brain Based Driving. De­ngan kata lain pengembangan cara mengemudi berdasarkan kinerja otak. Tulisan ini memang tidak mengupas cara membaca sidik jari, tapi Anda bisa membacanya dari kebiasaan atau karakter seperti apa yang Anda tunjukkan saat mengemudi.

Baca Juga  Mobil SUV Tercanggih 2019

4 Jenis Kepribadian dari Cara Menyetir Mobil

Nah Berikut Jenis Jenis Karakter mengemudimu. Kamu Tipe yang Mana gan ?

Secara garis besar otak terbagi dalam 3 bagian yaitu neocortex, limbic dan reptilian. Reptilian juga disebut sebagai batang otak karena bentuknya memanjang dari pangkal leher hingga pangkal otak. Sementara limbic hadir sebagai lapisan di atas reptilian dan neocortex hadir sebagai lapisan di atas limbic. Nah, tipe pengemudi didasarkan pada bagian otak mana yang dominan bekerja saat mengemudi.

Pengemudi yang lebih dominan bagian neocortexnya disebut Cognitive Driver.

Pengemudi ini sangat kuat di nalar atau logikanya. Itu sebab ia terbiasa melakukan analisis saat mengemudi. Misalnya melakukan perhitungan rinci saat hendak menyalip atau memilih rute terdekat untuk tepat waktu sampai tujuan. Masalahnya, pengemudi kognitif lebih mementingkan tujuan maka orientasinya adalah dirinya. Di jalan, ia cenderung lebih mementingkan dirinya bahkan cenderung selfish. Tak heran tipe pengemudi kognitif bisa dengan mudahnya menyalip atau memotong antrean tanpa memperdulikan pengendara lain.

Baca Juga  Pengalaman Pakai VW Tiguan

Kedua adalah Affective Driver.

Pengemudi afektif adalah pengemudi yang bekerja dengan didominasi kinerja otak tengah alias limbic. Di bagian ini, emosi dan rasa adalah yang lebih berperan. Cirinya terlihat dari tendensi pengemudi untuk mendapatkan rasa nyaman. Pengemudi afektif sangat hati-hati di jalan. Tak lain agar terhindar dari rasa cemas jika ia melakukan sesuatu yang berpotensi celaka. Ia lebih mementingkan lingkungannya misalnya keluarga atau kerabat yang menumpang mobil bersamanya. Namun pengemudi afektif juga punya kecenderungan untuk terlalu banyak berpikir. Tak lain karena ia sangat berhati-hati. Selain itu, karena bagian otak limbic adalah ‘prosesor’ yang bekerja mengatur emosi, maka pengemudi afektif juga sangat moody saat mengemudi. Jika mood-nya sedang buruk, maka potensi memburuknya ia mengemudi juga semakin besar.

Ketiga adalah Reflective Driver.

Pengemudi reflektif adalah ia yang didominasi oleh kinerja otak bagian batang otak. Otak ini mengatur gerak tubuh, motoric. Dalam konteks mengemudi, pengemudi reflektif cenderung berbasis dari kebiasaan. Ia juga sangat patuh terhadap peraturan. Pengemudi reflektif, misalnya, akan rela melewati jalan yang macet jika peraturan mengharuskan seperti itu. Tanpa berusaha mencari jalan lain agar lebih cepat sampai.

Baca Juga  Review Hyundai New Tucson Indonesia

Keempat adalah tipe pengemudi Dual Affective.

Pengemudi tipe ini dipengaruhi oleh 2 bagian otak yakni neocortex dan limbic. Outcome-nya adalah mengemudi dengan gaya yang didasarkan pada tujuan dan perasaan. Ia mementingkan kenyamanan mengemudi tapi tidak segan untuk mencari jalan singkat jika dirasa perlu. Mood-nya bermain tapi juga menggunakan nalar saat berkendara. Pengemudi tipe ini juga bisa dibilang perfeksionis.

 

Lantas jika ditanya mana tipe pengemudi yang paling baik? Andrian Benny menyebut semuanya baik. Namun memang dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi ada hal menarik bahwa dari informasi yang ia dapat, mayoritas penduduk dunia adalah pengemudi afektif. Angkanya sekitar 60%. Kemudian disusul kognitif yang mencapai 30%. Dual Affective Driver masuk ke dalam kognitif. Sementara paling sedikit adalah Reflective Driver yang hanya 10%.Kalau Kamu tipe pengemudi yang mana gan ?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.