Pengalaman Mengendarai Avanza Matic Grand New Veloz

  • Whatsapp
[Total: 0    Average: 0/5]

Pengalaman Mengendarai Avanza Matic Grand New Veloz

Kali ini tim Travel berkesempatan untuk berpetualang di ‘kota gudeg’ melalui jalur Daendels Selatan, menggunakan MPV terbaik Toyota, Grand New Veloz 1.5L dengan transmisi otomatis. Pangandaran menjadi tujuan pertama dari perjalanan Kami, melalui jalan tol Cipali. Dari kota Jakarta menggunakan jalan bebas hambatan tersebut, hingga di pintu keluar menuju Majalengka. Perjalanan panjang tersebut tidak terasa membosankan berkat beragam konektivitas pada head unit standar Toyota Grand New Veloz seperti bluetooth, USB, Aux dan Ipod, sebagai sarana hiburan dalam kabin kendaran yang menghadirkan lagu­lagu favorit pilihan Kami.

Sepanjang perjalanan menjumpai jalanan bergelombang yang ternyata bukan masalah bagi kenyamanan berkendara kami. Suspensi Grand New Veloz mampu meredam ketidak sempurnaan jalan dengan cukup baik. Ruangan kabinnya pun cukup senyap, sehingga memberikan kenyamanan tambahan selama perjalanan. Kami menggunakan rute jalan ke Pangandaran via Majalengka, untuk menghindari daerah Garut yang saat itu belum lama terjadi bencana alam. Rute ini tidak memiliki tanjakan maupun kondisi jalan yang ekstrem, tetapi tetap harus ekstra hati­hati. Ini dikarenakan kondisi jalan gelap dan berliku. Namun kami tidak terlalu khawatir, karena proyektor Grand New Veloz mampu memberikan penerang an yang optimal. Kami merasa aman dan terlindungi berkendara dengan Grand New Veloz, karena beragam fitur keselamatan yang dimilikinya. Termasuk diantaranya adalah rem Anti Lock Braking System (ABS) yang menjamin manuver pengereman. Dual SRSAirbag dan Side Impact Beam yang tersembunyi di balik kulit pintu yang akan melindungi pengendara ketika terjadi benturan. Grand New Veloz juga akan terus mengingatkan kepada penumpang depan untuk mengenakan sabuk pengaman.

 

  • PEsOnA GREEn CAnyOn

Aroma laut dan suara deburan ombak di pagi hari seketika menghilangkan rasa lelah kami selama perjalanan. Ini merupakan pertanda bahwa kami telah mencapai titik awal dari petualangan menuju Yogyakarta, melalui jalur paling selatan Pulau Jawa. Siapa yang tidak kenal dengan pantai Pangandaran. Pantai ini sudah menjadi objek wisata yang sangat umum. Mungkin dapat saya sebut Pantai Kuta­nya pulau Jawa, karena banyak kegiatan komersial disekitarnya seperti hotel, café, dan toko souvenir. Terlintas di benak saya jika pantai ini kotor dan dipenuhi sampah, namun dugaan saya tidak sepenuhnya benar. Pantai ini terlihat bersih untuk daerah yang dipenuhi café dan toko souvenir. Tampak pula beberapa nelayan yang sedang sibuk di bibir pantai. Akan tetapi, daerah yang sepi dari keramaian malah dipenuhi sampah dan terlihat seperti tidak diperhatikan.

Tidak hanya berhenti di Pantai Pangandaran, kami pun mengunjungi Pantai Batukaras yang sedikit lebih sepi. Di pantai ini anda dapat menikmati berbagai wahana watersport seperti berselancar. Perjalanan menuju Pantai Batukaras hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam melalui Jalan Raya Cijulang. Jalan yang kami lalui cukup mulus pada awalnya. Namun setelah menyebrang sungai memasuki Jalan Batukaras, jalan mulai berubah menjadi bergelombang dan banyak lubang yang cukup dalam. Beruntung Grand New Veloz kami memiliki ground clearance yang cukup tinggi, sehingga tidak perlu khawatir. Apabila ingin melihat keindahan alam yang lebih eksotis lagi, anda dapat mengunjungi Green Canyon. Untuk mencapai Green Canyon, anda hanya perlu menyewa perahu kayu modern yang sering disebut dengan ‘ketinting’ dari Dermaga Ciseureuh, tak jauh dari Pantai Batukaras. Green Canyon menawarkan keindahan sungai yang jernih berwarna kehijauan. Disana anda dapat berjalan­jalan menyusuri goa yang dipenuhi stalagtit dan stalagmit. Kegiatan lainnya yang dapat dilakukan di Green Canyon adalah body rafting. Wahana ini akan membawa anda menikmati indahnya sungai yang jernih dengan bantuan pelampung. Apabila memiliki keberanian yang lebih, anda dapat melompat dari salahsatu tebing yang tinggi.

 

  • PEsOnA PAnTAi yAnG TERsEmbUnyi

Tepat pukul tujuh pagi kami berangkat dengan mengarahkan Google Maps ke Yogyakarta melalui jalur Pantai Selatan. Sekilas rute yang akan dilalui terlihat ‘jinak’ dengan didominasi oleh jalan lurus. Peta pun mengarahkan kami ke arah Cilacap dilanjutkan dengan Jalan Srandil dan Jalan Diponegoro, sebelum memasuki Jalan Ayah­Karangbolong yang berkelok­kelok. Sebelum benar­benar memulai perjalanan, kami mengisi penuh bahan bakar Grand New Veloz ini. Walaupun Grand New Veloz sangat irit, mampu mencapai konsumsi hampir 14 km/l, kami tidak ingin mengambil risiko kehabisan bahan bakar karena kesulitan mencari SPBU. Tidak ada kesulitan berarti selama perjalanan.

Baca Juga  Pengalaman Pakai Mobil Toyota All New Sienta

 

 

Grand New Veloz mampu melahap tikungan dan tanjakan semudah membalikkan telapak tangan. Rasio gigi transmisi otomatis 4­percepatannya dirasa sangat pas. Mesin tidak perlu ‘berteriak’ terlalu kencang saat kondisi menanjak dan tetap memberikan tenaga yang berlimpah, dengan penggerak roda belakang memberikan keuntungan yang cukup baik saat melahap jalan menanjak yang cukup terjal. Transmisinya juga mampu merespon dengan cepat ketika dibutuhkan untuk mendahului truk yang menghalangi jalan. Memasuki Jalan Ayah­Karangbolong, kondisi jalan berubah menjadi cukup ekstrem karena melewati kawasan berkontur yang didominasi oleh batu gamping. Selain berlubang, jalan ini dipenuhi oleh tanjakan terjal dan turunan curam. Belum lagi lebar jalan yang sempit. Disinilah ketangguhan mesin 1.500 cc 4­silinder Dual VVT­i diuji. Tenaga 102,6 hp pada 6.000 rpm dan torsi 136,2 Nm pada 4.200 rpm mampu membawa Grand New Veloz mengatasi tanjakan yang terjal. Sepanjang Jalan Utama AyahKarangbolong terdapat berbagai cabang menuju pantai wisata yang masih terjaga keindahannya seperti Pantai Menganti, Pantai Pecaron, Pantai Surmanis, dan masih banyak yang lainnya. Kami pun tertarik untuk mengunjungi Pantai Menganti. Salah satu pantai yang lokasinya cukup tersembunyi, belum banyak wisatawan yang berkunjung ke tempat tersebut.

 

Perjalanan memakan waktu kurang lebih 3,5 jam dari Pangandaran. Aksesnya pun terbilang mudah. Kami hanya perlu mengikuti Jalan Utama Ayah­Karangbolong, lalu mengikuti petunjuk yang mengarah ke Pantai Menganti. Jalan menuju pantai merupakan turunan yang cukup tajam dan berliku sepanjang sekitar 3 km. Kami posisikan tuas transmisi di posisi ‘2’ bahkan ‘L’ untuk mengurangi beban kerja rem. Sesampainya di Pantai Menganti, keindahan tebing dan warna biru air laut menyapa kami. Memang bukan pantai untuk berenang, karena langsung berhadapan dengan laut lepas, namun untuk sekedar mengagumi keindahan dan damainya suara deburan ombak cukup menyejukkan pikiran kami. Ditambah lagi pemandangan tebing dan laut lepas yang begitu indah. Untuk menikmati keindahan ini sambil sekedar bersantai, terdapat beberapa saung yang menjajakan makanan ringan dan minuman. Apabila anda ingin berkunjung atau sekedar melewati daerah Ayah­Karangbolong, kami anjurkan untuk tidak berkendara saat gelap. Ini disebabkan oleh medan yang cukup berbahaya seperti jalan yang sempit, tikungan tajam, dan juga kurangnya pencahayaan jalan. Sepanjang jalan pun pemandangan dihiasi oleh pohon­pohon yang tumbuh liar seperti di hutan. Persiapkan juga kendaraan dan bahan bakarnya sebelum menempuh jalan ini karena cukup sulit untuk menemukan SPBU. Kami melanjutkan perjalanan menyusuri sisa Jalan AyahKarangbolong yang terjal dan berliku.

 

Keluar dari Jalan AyahKarangbolong, petunjuk jalan menuju Jogja cukup jelas dipampang oleh warga, melalui Jalan Pangeran Diponegoro. Namun sayang, jalannya sedang diperbaiki dan banyak truk berlalu­lalang. Membuat jalannya semakin buruk dan berlubang cukup dalam. Kami diuntungkan dengan ground clearance yang cukup tinggi, kendaraan sejenis sedan tidak akan mampu melewati jalan tersebut. Sekitar 20% dari total perjalanan kami menuju kota Jogja melalui jalur pantai selatan ini diisi oleh jalanan yang rusak, terutama di awal Jalan Pangeran Diponegoro ini yang kondisinya cukup parah. Memasuki daerah Ambal, jalan menjadi sangat mulus dan di dominasi trek lurus hingga memasuki kota Yogyakarta. Jangan memacu kendaraan terlalu cepat disini, karena jalannya cukup sempit untuk dua jalur. Pada jalur ini, Anda akan menjumpai panganan khas, yaitu Sate khas Ambal H.Kasman. Anda akan rugi apabila tidak mencicipi sajian sate ini. Sate ayam yang disajikan disini memiliki tekstur yang lembut ditemani bumbu kacang yang khas, karena dicampur dengan tempe. Rasanya gurih namun sedikit agak pedas. Tidak ketinggalan Sate Kambing yang dibumbui kecap, cabe rawit, dan bawang merah. Daging kambingnya sendiri memiliki rasa bumbu rempah yang tidak terlalu tajam, namun tetap memberikan sensasi tendangan di lidah. Dengan perut kenyang dan puas, Kami melanjutkan kembali perjalanan.

Baca Juga  Mobil Offroad Nissan

  • sUsU UkURAn GAjAh

Malam belum terlalu larut ketika kami menyentuh daerah pusat Kota Yogyakarta. Perburuan kuliner Yogyakarta pun dimulai. Malam itu suhu di Kota Jogja cukup panas. Seperti di Jakarta namun tidak lembab. Menikmati susu murni yang dingin ditemani makanan ringan sepertinya nikmat untuk mengembalikan tenaga yang terkuras selama perjalanan. Kami pun singgah di salah satu tempat minum susu yang cukup terkenal di Yogyakarta, yaitu Kalimilk. Terletak di Jalan Perumnas, tidak jauh dari Plaza Ambarukmo, Kalimilk TKP 2 menyajikan minuman susu sapi segar. Tidak hanya sekedar susu segar, Kalimilk menyediakan berbagai rasa untuk sajian susunya. Akhirnya kami memilih susu dingin berukuran ‘gajah’, sebutan untuk ukuran besar, dengan rasa pisang dan vanilla. Segarnya susu murni semakin nikmat ditemani makanan ringan khas kalimilk seperti kentang goreng, risoles keju, dan chicken wings.

 

  • UdAnG bAkAR mAdU

Keesokan paginya kami arahkan Grand New Veloz ke daerah Kabupaten Kulon Progo untuk menikmati keindahan kawasan Wisata Alam Kalibiru. Wisata Alam Kalibiru ini terdapat di Perbukitan Menoreh, Kulon Progo, Yogyakarta. Kondisi jalan menuju Kalibiru mendaki terjal. Tanjakannya lebih terjal ketimbang seluruh rute yang telah kami lalui. Namun perpaduan mesin dual VVT­i dengan transmisi otomatis masih mampu membawa Grand New Veloz kami mengatasi jalur menanjak tersebut. Hanya memposisikan tuas transmisi di ‘L’, menanjak menjadi tanpa masalah. Sesampainya di tempat parkir Kalibiru, jalur pendakian dilanjutkan dengan berjalan kaki. Untuk memasuki kawasan wisata, Anda hanya perlu membayar Rp 10.000/orang.

Di dalamnya terdapat pohon menara pandang yang menjadi tujuan utama para wisatawan untuk berfoto­foto. Dari pohon menara pandang, Anda akan disuguhkan pemandangan Waduk Sermo dan perbukitan yang mengelilinginya. Tak perlu khawatir soal keselamatan diatas pohon menara pandang, karena Anda diharuskan menggunakan peralatan pengaman dan juga ditemani oleh seorang pemandu. Untuk mencapainya pun terdapat dua cara, dengan melakukan flying fox atau menaiki tangga dari bawah pohon. Selain pohon menara pandang, tempat ini memiliki fasilitas lengkap seperti pondok wisata, outbond centre, mushola, cafe, dan lain sebagainya. Belum ke Jogja rasanya apabila belum menyantap gudeg. Seusai menikmati pesona alam Kalibiru kami langsung berangkat menuju salahsatu gudeg terkenal, Gudeg Yu Djum Pusat.

  • mUsEUm inTERAkTif

Bagi anda yang ingin kepraktisan berlibur untuk keluarga, Banyumili Countryclub sepertinya cocok untuk anda. Memadukan cita rasa kuliner dengan fasilitas kolam renang bagi keluarga. Tempatnya pun cukup mudah untuk dijangkau karena tidak jauh dari pusat kota, tepatnya di Perumahan Griya Mahkota, Jalan Godean Km 4,5 Kwarasan, Yogyakarta. Yang menjadi menu kuliner andalannya adalah udang bakar madu yang begitu mengundang selera. Sensasi rasa manis dan gurih langsung terasa ketika menggigit udang yang lembut. Menu lainnya pun tidak kalah nikmat seperti beragam sajian kepiting dan seafood. Es kelapa muda menemani nikmatnya santapan kami siang itu.

 

Banyumili menyediakan kolam renang yang cukup luas untuk anak­anak yang senang bermain air. Tidak perlu khawatir soal kebersihannya. Menurut pandangan kami, air kolam renang disana cukup bersih dan jernih. Selain itu tempat makannya pun mengelilingi kolam renang sehingga akan lebih mudah untuk mengawasi buah hati anda. mUsEUm inTERAkTif Tidak hanya berwisata menikmati kuliner dan keindahan alam, Kami mendatangi salah satu museum yang sedang menjadi buah bibir belakangan ini, De Mata Trick Eye Museum dan De Arca. Museum yang berbeda dengan pandangan museum pada umumnya, yang menghadirkan edukasi mengenai sejarah. Museum De Mata malah menghadirkan beragam gambar ilusi mata 3D dan 4D yang interaktif, menghilangkan pandangan museum yang membosankan. Berkat ilusi ini, pengunjung dapat menghasilkan foto yang unik dan menarik. Untuk museum De Arca, di dalamnya terdapat berbagai patung lilin replika tokoh­tokoh terkenal dari berbagai penjuru dunia seperti Presiden Soekarno, Habibie, Jokowi, Steve Jobs, Michael Jackson, dan sebagainya. Museum De Arca ini hadir bagaikan museum Madame Tussauds dari Indonesia. Museum De Mata terbagi menjadi dua bagian dimana keduanya menghadirkan berbagai gambar ilusi 3D dan 4D. Anda hanya perlu membayar tiket terusan sebesar Rp120.000 apabila berkunjung saat weekend ataupun peak season.

Baca Juga  Contoh Modifikasi Motor Matic dan Kawasaki Ninja 150R

 

  • sEnTUhAn Unik

Setelah puas mengambil banyak foto di Museum De Mata dan De Arca, kami mengarahkan Grand New Veloz ke Jalan Sagan. Tepatnya Jalan Sagan Kidul No.4 yang merupakan lokasi kafe unik bertema penjara, Bong Kopitown. Grand New Veloz sangat menyenangkan untuk dikendarai, dimensinya yang tidak terlalu besar memudahkan manuvermanuver lincah ketika berada di dalam kota. Karena memiliki sensor dan rear parking camera, sangat membantu dan memudahkan ketika akan memarkirkan kendaraan. Bong Kopitown memiliki desain interior yang bertemakan penjara namun tetap nyaman. Pencahayaannya dibuat sedikit remang­remang ditambah dominasi warna gelap. Belum lagi jeruji­jeruji besi yang menghiasi berbagai sudut cafe memperkuat tema yang diusung. Melihat dari bentuk menu nya, dapat dirasakan bahwa cafe ini mempersiapkan temanya dengan detil. Menu dibuat seperti sebuah koran yang menampilkan berita dan menawarkan berbagai sajian peranakan seperti nasi lemak, nasi hainan dan yang lainnya. Kami pun akhirnya memesan penang fried noodle dan chicken nasi lemak sebagai menu rekomendasi disini. Untuk sedikit mencicipi makanan ringannya, pramusaji yang berkostum ala penjara menyarankan untuk memesan garlic toast. Kami pun memesan kopi dan teh tarik hangat untuk melengkapi sajian peranakan ini. Mie goreng dan roti bakarnya disajikan dalam wadah aluminium. Belum lagi gelas kopi dan teh kami yang juga terbuat dari gelas aluminium semakin memperkuat tema penjara tadi. Walau begitu, penyajianya tetap sedap dipandang dan menggugah selera.

 

  •  TEmPAT mAkAn bERnUAnsA jAwA

Salah satu cafe yang wajib dikunjungi ketika berlibur ke Yogyakarta adalah House of Raminten. Cafe bernuansa tradisional ini memiliki aura mistis yang kental, dengan alunan musik jawa dan aroma dupa. Untuk dapat menikmati santapan disini, Anda mungkin harus menunggu antrian yang cukup panjang. Kami dilayani oleh pramusaji cantik yang mengenakan kemben tradisional Jawa. Kami yang cukup kekenyangan malam itu hanya memesan makanan penutup saja. Walaupun begitu, berbagai sajian yang ditawarkan disini dibanderol dengan harga yang cukup mengejutkan bagi kami yang terbiasa tinggal di Jakarta. Harga makanannya terbilang sangat murah namun memberikan kualitas dan rasa yang tidak murahan. Aneka makanan penutup yang ditawarkan disini cukup unik. Seperti es buah raminten, es krim raminten, dan melonkolis. Contohnya melonkolis yang menyajikan es krim nikmat diatas setengah buah melon utuh. Cemilan tempe krispi juga terasa sangat nikmat dengan rasa yang berbeda dari sajian tempe goreng lainnya. Yang membuat cafe ini semakin ‘nyentrik’ adalah ketika anda harus ke WC. Di jalan menuju WC, anda akan menemui kandang kuda lengkap beserta kudanya. Kami pun tak tahu menahu mengapa ada kandang kuda di dalam rumah dan bahkan daerahnya pun merupakan daerah perumahan. Mungkin itu salahsatu ciri khas dari House of Raminten yang membedakan dengan cafe­cafe lainnya, yang ada di kota Jogja.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.